Mengkhawatirkan, Algoritma Digital Kini Bentuk Cara Berpikir dan Karakter

  • 20 Mei 2026 14:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Pengaruh media sosial terhadap generasi muda dinilai semakin mengkhawatirkan. Bukan hanya membentuk tren, algoritma digital kini disebut mampu membentuk karakter dan cara berpikir masyarakat.

“Algoritma sekarang tidak hanya menyajikan konten, tetapi sudah sampai menentukan bagaimana masyarakat berperilaku dan berpikir,” kata pengamat media dan komunikasi, Arif Budi Prasetya dalam program Malang Menyapa di RRI Malang, membahas Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Tunas Bangsa Tangguh di Era Digital, Rabu 20 Mei 2026.

Menurutnya, generasi Z dan generasi Alpha yang lahir di era digital sangat rentan menjadikan sesuatu yang viral sebagai tolok ukur kebenaran.

“Kalau sesuatu terus-menerus disajikan di media sosial, lama-lama dianggap sebagai kebenaran, padahal belum tentu nyata,” ujarnya.

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya ini menyebut kondisi ini sebagai fenomena hyper reality, ketika realitas buatan di media digital terasa lebih nyata dibanding kehidupan sebenarnya.

Ia mencontohkan bagaimana algoritma bekerja berdasarkan kesukaan pengguna, bukan kebutuhan pengguna.

“Kalau masyarakat suka konten tertentu, algoritma akan terus menyajikan itu. Yang sebetulnya tidak dibutuhkan, akan terus disajikan dan dikonsumsi. Daya kritis masyarakat perlahan dilemahkan,” katanya.

Menurut Arif, situasi ini semakin kompleks dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau AI yang kini makin sulit dibedakan dengan konten asli.

“Sekarang kita kadang sudah sulit membedakan mana AI dan mana yang nyata,” ucapnya.

Ia juga menyoroti fenomena ketergantungan masyarakat terhadap teknologi digital yang kini telah masuk ke hampir seluruh aspek kehidupan.

“Hampir semua sendi kehidupan sudah digital. Dari pembayaran, komunikasi sampai identitas data pribadi,” katanya.

Karena itu, Arif menilai literasi digital saat ini harus ditingkatkan ke level yang lebih kritis, bukan sekadar mengenalkan penggunaan media sosial.

“Kita tidak cukup hanya bicara hati-hati menggunakan media sosial. Sekarang harus bicara strategi menghadapi algoritma dan risiko digital,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat perlu mulai “menghumanisasikan algoritma”, yakni menjadikan teknologi hanya sebagai alat bantu tanpa menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.

“Ada sisi kehidupan manusia yang tidak bisa digantikan algoritma,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....