Ustazah Dewi Latifah Ungkap Bahaya Makan Berlebihan bagi Tubuh & Jiwa

  • 09 Sep 2026 10:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Makanan lezat kerap membuat seseorang sulit berhenti makan. Apalagi ketika makanan favorit tersedia di depan mata, keinginan untuk menambah porsi bisa muncul meski tubuh sebenarnya sudah merasa cukup.

Kebiasaan tersebut menjadi perhatian Ustazah Hajah Dewi Latifah dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang. Dalam tausiah bertema “Lima Dampak Buruk dari Kenyang”, ia mengajak pendengar untuk lebih mampu membedakan antara kebutuhan makan dan keinginan untuk terus menikmati makanan.

Menurutnya, makanan yang lezat dapat membuat seseorang lupa mengendalikan porsi. Ketika terus mengikuti keinginan, makan akhirnya bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan tubuh.

“Pokoknya ada, pokoknya enak. Sudah tidak ada saringan,” kata Ustazah Dewi menggambarkan kebiasaan makan tanpa kontrol, Selasa (8/9/2026).

Ia menilai kebiasaan tersebut dapat berujung pada berbagai persoalan, termasuk bertambahnya berat badan dan munculnya masalah kesehatan. Karena itu, pola makan perlu diatur sejak awal, bukan menunggu sampai kondisi tubuh mengalami masalah.

“Kenapa? Karena banyak makanan enak dan dia lupa, pokok enak wis mlebu ae, telan ae,” ujarnya saat menjelaskan salah satu penyebab seseorang mengalami obesitas.

Dalam dialog tersebut, beberapa pendengar mengungkapkan kebiasaan makan lebih banyak ketika sedang mengalami stres atau menghadapi persoalan hidup.

Salah seorang pendengar dari Pasuruan mengaku sering memiliki keinginan makan ketika pikirannya sedang rumit. Kondisi tersebut kemudian membuat makanan menjadi semacam pelarian.

Menanggapi hal itu, Ustazah Dewi mengingatkan agar persoalan tidak selalu dilampiaskan melalui makanan. Ia mendorong seseorang untuk lebih banyak melakukan refleksi dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Lebih baik kita merenung. Tafakaru fi khalkillah, wala tafakaru fi dzatillah,” ujarnya.

Ia juga menyarankan istighfar dan puasa sebagai bagian dari upaya mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan yang memicu emosi atau keinginan makan berlebihan.

Dengan demikian, menurutnya, seseorang perlu memiliki cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan dan persoalan, bukan sekadar mengalihkannya melalui makanan.

Persoalan lain yang dibahas adalah kebiasaan mengambil makanan dalam jumlah terlalu banyak, terutama ketika berada dalam acara dengan konsep prasmanan.

Ustazah Dewi menyarankan agar seseorang mengambil makanan dalam jumlah sedikit terlebih dahulu. Jika makanan tersebut masih ingin dinikmati dan tubuh masih membutuhkannya, seseorang dapat mengambil tambahan.

Ia menilai cara tersebut lebih baik daripada mengambil makanan dalam jumlah banyak tetapi akhirnya tidak mampu menghabiskannya.

“Ambil aja sedikit, enak, lanjut. Enggak mandek kanti liyane,” ujarnya.

Menurutnya, menyisakan makanan karena mengambil porsi terlalu banyak juga berkaitan dengan perilaku mubazir. Padahal, masih banyak orang yang membutuhkan makanan.

“Ambil sedikit aja. Dirasakan enak, kalau enak nambah sedikit lagi. Kok jangan ambil banyak, akhirnya tidak habis, mubazir,” katanya.

Pesan serupa juga disampaikan kepada pendengar yang memiliki kebiasaan memasak dalam jumlah banyak meski anggota keluarga tidak mampu menghabiskan seluruh makanan.

Menurut Ustazah Dewi, jumlah makanan yang dimasak sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Jika ternyata makanan berlebih, makanan tersebut sebaiknya dibagikan kepada tetangga, saudara, atau orang lain yang membutuhkan.

“Kalau memang banyak, tolong dibagikan kepada orang yang membutuhkan,” pesannya.

Prinsip tersebut juga berlaku ketika seseorang menjalani ibadah puasa. Ustazah Dewi mengingatkan bahwa rasa lapar setelah seharian berpuasa tidak boleh membuat seseorang kehilangan kendali ketika membeli makanan untuk berbuka.

Keinginan membeli berbagai takjil, jajanan, dan menu berbuka dalam jumlah banyak tetap perlu dikendalikan agar makanan tidak berakhir sia-sia.

Di akhir tausiah, Ustazah Dewi kembali menekankan pentingnya memiliki batas dalam memenuhi kebutuhan. Makan tidak harus dihindari, begitu pula memasak dan menikmati makanan. Yang perlu dihindari adalah sikap berlebihan.

Ia mengajak pendengar untuk membangun pola makan yang lebih terukur sekaligus menjadikan makanan sebagai bagian dari upaya mendukung ibadah.

“Makanan atau minuman yang kita makan harus halal. Kalau halal, insyaallah barokah. Dan setiap makan diniatkan untuk syarat ibadah,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penutup dari pembahasan mengenai lima dampak buruk terlalu kenyang. Intinya, menikmati makanan tetap diperbolehkan, tetapi seseorang perlu memiliki kendali agar kebutuhan tidak berubah menjadi keinginan yang terus dituruti.

Dengan makan secukupnya, memilih makanan yang halal dan baik, serta membagikan makanan yang berlebih kepada mereka yang membutuhkan, kebiasaan makan diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi tubuh, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....