Psikolog: Tak Harus Selalu Positif, Emosi Sedih Perlu Divalidasi

  • 31 Agt 2026 13:51 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dorongan untuk selalu berpikir positif ternyata tidak selalu berdampak positif bagi kesehatan mental. Nasihat seperti “jangan overthinking”, “harus bersyukur”, atau “lihat sisi positifnya” justru dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki ruang untuk mengakui kesedihan, kekecewaan, maupun ketakutan yang sedang dirasakan.

Hal tersebut disampaikan Psikolog Sri Wiworo dalam program Obrolan Psikologi RRI Malang dengan tema Toxic Positivity: Ketika Nasihat Positif Justru Membuat Kita Tertekan. Menurut Sri, toxic positivity bukan sekadar memberikan kalimat positif, melainkan terjadi ketika emosi negatif seseorang ditekan atau dianggap tidak boleh dirasakan.

“Toxic positivity itu bukan sekadar mengatakan sesuatu yang positif,” ungkapnya, Senin (31/8/2026).

Sri menjelaskan, emosi merupakan bagian penting dari kehidupan manusia sehingga perlu dikenali dan diterima. Ketika seseorang sedang menghadapi persoalan, tetapi justru dipaksa untuk segera berpikir positif dan terlihat baik-baik saja, kondisi tersebut dapat menambah tekanan yang dirasakan.

“Dia butuh ruang, dia butuh mengenali emosinya sebelum dia benar-benar positif dengan caranya atau mungkin dari motivasi orang lain. Dikasih ruang dulu,” ujarnya.

Menurut Sri, persoalan tersebut juga dapat muncul ketika seseorang mendapatkan respons berupa perbandingan dengan pengalaman orang lain. Kalimat seperti “saya juga pernah mengalami hal yang sama” atau “masalah orang lain lebih berat” memang bisa disampaikan dengan niat memberi semangat, tetapi belum tentu membuat orang yang sedang menghadapi masalah merasa lebih baik.

Dalam dialog tersebut, pendengar bernama Rina dari Lowokwaru, Kota Malang, mengaku kerap mendapatkan nasihat agar tidak overthinking, bersyukur, dan melihat sisi positif dari masalah. Ia mengaku nasihat tersebut terkadang justru membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk bersedih.

Sri membenarkan bahwa kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai toxic positivity. Ia menyarankan agar seseorang yang sedang mengalami masalah terlebih dahulu menyampaikan kebutuhannya kepada orang yang memberikan nasihat. Menurutnya, seseorang berhak mengatakan bahwa dirinya ingin didengarkan dan emosinya divalidasi sebelum masuk ke tahap mencari penyelesaian masalah.

Toxic positivity juga tidak selalu berasal dari orang lain. Menjawab pertanyaan Ayu dari Dinoyo, Kota Malang, Sri mengatakan seseorang bisa memberikan tekanan kepada dirinya sendiri melalui tuntutan untuk selalu kuat, tidak boleh sedih, dan harus selalu baik-baik saja.

Sri menegaskan bahwa berpikir positif tetap memiliki manfaat, tetapi tidak seharusnya digunakan untuk memaksa diri mengabaikan kondisi emosional yang sedang dialami. Pola pikir positif justru dapat diarahkan menjadi motivasi untuk mencari jalan keluar dari persoalan secara bertahap.

“Bukan aku harus bisa, tapi aku harus bisa menyelesaikan masalahku dengan cara apa,” ucapnya.

Menurut Sri, cara tersebut membuat seseorang lebih produktif karena persoalan tidak langsung dibebankan sebagai target besar yang harus selesai seketika. Masalah dapat dipecah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih realistis, sembari tetap mengenali dan mengekspresikan emosi yang muncul.

Di akhir dialog, Sri mengingatkan masyarakat bahwa menjadi pribadi yang kuat tidak berarti harus selalu terlihat baik-baik saja. Kesedihan, kekecewaan, ketakutan, dan kelelahan merupakan emosi yang boleh dirasakan selama dikelola secara sehat.

“Kita tidak harus selalu terlihat baik-baik saja untuk menjadi pribadi yang kuat. Ya, kita boleh kok sedih, kecewa, takut, dan lelah,” pungkasnya.

Ia mengajak masyarakat untuk mengenali dan mengelola emosi secara sehat serta mencari bantuan ketika merasa membutuhkannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....