Beban Kerja Berlebih Bisa Picu Burnout Pekerja
- 09 Sep 2026 09:08 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Beban kerja yang berlebihan dan tekanan yang berlangsung terus-menerus di lingkungan kerja berisiko memicu burnout pada pekerja. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi perubahan sikap, produktivitas, hubungan dengan rekan kerja, hingga kemampuan seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Persoalan burnout menjadi pembahasan dalam program Jaga Malam Mental Health RRI Pro 2 Malang, Selasa (8/9/2026), yang mengangkat tema “Burnout di Dunia Kerja: Ketika Tekanan Psikologis Bertemu dengan Perlindungan Hukum”.
Psikolog sekaligus Mentor CastleRock Indonesia, Meyke Kriegenbergh, S.Psi., CHRM, saat diwawancarai RRI Pro 2 Malang dalam program Jaga Malam Mental Health bersama Host Irene Nathasya, menjelaskan bahwa burnout berbeda dengan stres kerja biasa. Menurutnya, seseorang yang mengalami burnout dapat merasakan kelelahan secara ekstrem dan terus-menerus, bahkan ketika sudah mendapatkan waktu untuk beristirahat.
“Burnout itu berarti kondisi dia benar-benar capek. Bukan sekadar kayak mager, nggak ingin kerja. Burnout itu benar-benar dia yang pertama adalah cirinya kelelahan secara ekstrem,” ujar Meyke.
Ia menjelaskan, kelelahan akibat burnout tidak hanya muncul secara fisik, tetapi juga dapat dirasakan secara emosional dan mental. Pekerja bisa merasa energi yang dimiliki semakin berkurang, sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat, dan merasa pekerjaan yang sebelumnya dapat diselesaikan dengan baik menjadi semakin berat.
Selain kelelahan, perubahan perilaku juga dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Pekerja yang sebelumnya aktif, komunikatif, dan mudah bekerja sama dapat berubah menjadi lebih pasif, apatis, mudah merasa kewalahan, bahkan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dalam kondisi tertentu, seseorang juga dapat mulai mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Tugas yang sebelumnya dianggap biasa saja dapat terasa sangat berat sehingga muncul perasaan tidak mampu, tidak berdaya, atau merasa bahwa apa pun yang dilakukan tetap tidak cukup.
Menurut Meyke, kondisi tersebut tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Burnout dapat berkembang ketika tekanan pekerjaan berlangsung dalam waktu lama dan tidak diimbangi dengan kesempatan untuk memulihkan kondisi fisik maupun psikologis.
Karena itu, beban kerja menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Target pekerjaan yang tinggi, tenggat waktu yang terus berdekatan, jam kerja yang panjang, kurangnya waktu istirahat, serta tuntutan untuk selalu siap bekerja dapat menjadi faktor yang memperbesar tekanan pada pekerja.
Selain beban pekerjaan, hubungan antara pekerja dan atasan juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Tekanan dari atasan maupun lingkungan kerja yang toksik perlu menjadi perhatian, terutama ketika pekerja merasa tidak memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan pendapat, memberikan kritik, atau membicarakan kesulitan yang sedang dihadapi.
Atasan yang sulit menerima kritik, sering menyalahkan bawahan, atau menciptakan suasana kerja penuh ketakutan dapat membuat pekerja merasa harus terus berhati-hati dalam bertindak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menguras energi psikologis pekerja.
“Kalau kita sudah menjadi musuh atasan, kita kadang nggak bisa menyelesaikannya secara langsung. Padahal berpura-pura ini ternyata lebih menguras energi daripada kerja beneran,” katanya.
Meyke menilai, pekerja juga sering kali berada dalam posisi sulit ketika harus menghadapi tekanan dari lingkungan kerja. Di satu sisi, mereka tetap dituntut menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Namun di sisi lain, terdapat tekanan emosional yang membuat proses bekerja menjadi semakin berat.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang memilih untuk memendam masalah dan tetap bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal, menyimpan tekanan dalam waktu lama tanpa adanya ruang untuk berkomunikasi maupun mendapatkan dukungan dapat membuat kondisi psikologis semakin terbebani.
Menurutnya, penting bagi pekerja untuk mengenali perubahan pada dirinya sendiri. Ketika mulai merasa kelelahan secara terus-menerus, kehilangan motivasi, sulit menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai, atau mengalami perubahan sikap terhadap pekerjaan dan lingkungan sekitar, kondisi tersebut sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai rasa malas.
Pekerja juga perlu memahami batas kemampuan dirinya. Memiliki tanggung jawab dan target dalam pekerjaan merupakan hal yang wajar, tetapi kebutuhan untuk beristirahat dan memulihkan diri juga merupakan bagian penting agar seseorang dapat tetap menjalankan pekerjaannya secara optimal.
Di sisi lain, perusahaan dan pemimpin juga memiliki peran dalam mencegah burnout. Lingkungan kerja yang sehat dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, pembagian beban kerja yang realistis, penghargaan terhadap kinerja, serta adanya ruang bagi pekerja untuk menyampaikan kendala tanpa takut mendapatkan tekanan atau perlakuan negatif.
Pembahasan mengenai burnout juga menjadi penting karena persoalan kesehatan mental di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan kondisi pribadi pekerja. Faktor dari lingkungan kerja, pola komunikasi, budaya organisasi, serta hubungan antara atasan dan bawahan turut menentukan bagaimana seseorang menjalani pekerjaannya sehari-hari.
Dengan mengenali tanda-tanda burnout sejak awal, pekerja maupun perusahaan diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan sebelum kondisi tersebut semakin memengaruhi kesehatan, hubungan sosial, dan kualitas pekerjaan.
Melalui program Jaga Malam Mental Health RRI Pro 2 Malang, pembahasan mengenai burnout diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan mental di dunia kerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....