Bulan Maulid, Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan
- 31 Agt 2026 08:04 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bulan Maulid menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengenang sosok Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya dengan memperbanyak shalawat, tetapi juga dengan menghadirkan keteladanan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Nur Cholis, SE, dalam program Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Jumat (28/8/2026) pagi. Mengangkat tema “Bershalawat dengan Lisan, Meneladani dengan Kehidupan”, ia mengajak umat Islam agar kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti pada lantunan shalawat, tetapi diwujudkan melalui perilaku.
“Bulan Maulid menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengenang sosok Nabi Muhammad SAW, bukan hanya dengan memperbanyak shalawat, tetapi juga dengan menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nur Cholis.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah semestinya tercermin dalam kejujuran, kesabaran, amanah, kasih sayang, serta kepedulian terhadap sesama.
“Cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya terdengar indah melalui lantunan shalawat. Cinta itu semestinya hadir dalam kejujuran, kesabaran, amanah, kasih sayang, dan kepedulian kepada sesama,” lanjutnya.
Dalam pembahasannya, Nur Cholis juga mengangkat kisah tentang kegembiraan masyarakat Madinah dalam menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Kisah tersebut dalam tradisi umat Islam kerap dikaitkan dengan syair Thala'al Badru 'Alaina.
Syair yang populer tersebut berbunyi:
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا
مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
Thala'al badru 'alaina, min tsaniyyatil wada'
“Telah terbit bulan purnama bagi kami, dari arah Tsaniyatul Wada'.”
Namun, ia mengingatkan agar kisah tersebut disampaikan secara proporsional. Riwayat yang secara khusus menghubungkan lantunan syair tersebut dengan kedatangan Rasulullah SAW dalam peristiwa hijrah dinilai lemah (dhaif) oleh sejumlah ahli hadis. Karena itu, kisah tersebut tidak semestinya disampaikan sebagai fakta sejarah yang pasti.
Meski demikian, syair Thala'al Badru 'Alaina telah menjadi bagian dari tradisi umat Islam sebagai ungkapan kegembiraan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Nur Cholis kemudian mengingatkan bahwa memperbanyak shalawat merupakan amalan yang baik. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa siapa yang bershalawat kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Karena itu, shalawat dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik ketika memiliki waktu luang, dalam perjalanan, setelah berdoa, maupun dalam berbagai kesempatan yang baik.
Namun, menurut Nur Cholis, terdapat pesan yang lebih penting, yakni memastikan shalawat tidak hanya berhenti di lisan.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pengingat agar umat Islam berupaya menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata.
Jika seseorang rajin bershalawat, maka semestinya ia juga belajar berkata jujur. Jika aktif mengikuti majelis shalawat, maka nilai kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian yang diperoleh dari majelis tersebut juga perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Nur Cholis memberikan contoh sederhana dalam kehidupan keluarga. Seseorang bisa saja aktif menghadiri pengajian dan majelis keagamaan, tetapi jika masih mudah membentak pasangan, bersikap kasar kepada anak, atau sulit menghormati tetangga, maka nilai-nilai yang dipelajari belum sepenuhnya terwujud dalam perilaku.
“Majelis seharusnya tidak hanya membuat seseorang semakin banyak mengetahui ilmu, tetapi juga semakin baik perilakunya,” pesannya.
Dalam kehidupan keluarga, keteladanan Rasulullah dapat diwujudkan melalui komunikasi yang jujur ketika menghadapi persoalan ekonomi, menjaga kepercayaan ketika menerima amanah, serta mengedepankan kesabaran dan musyawarah ketika menghadapi perbedaan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari makna “Bershalawat dengan Lisan, Meneladani dengan Kehidupan.”
Menurut Nur Cholis, majelis shalawat, termasuk kegiatan shalawat bersama dengan rebana atau terbangan, dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Kegiatan tersebut, lanjutnya, hendaknya tetap memperhatikan adab, kewajiban agama, aurat, pergaulan, serta tidak menimbulkan kemudaratan.
Pada akhirnya, ukuran kecintaan kepada Rasulullah bukan hanya seberapa merdu seseorang melantunkan shalawat, tetapi juga seberapa jauh akhlak beliau dapat dihadirkan dalam kehidupan.
“Jangan hanya membuat lisan kita indah dengan shalawat. Jadikan shalawat sebagai jalan untuk membuat kehidupan kita semakin indah dengan akhlak,” tuturnya.
Menutup keterangannya, Nur Cholis berharap momentum Bulan Maulid dapat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan kualitas diri, terutama dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian kepada sesama.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.
Bershalawat dengan lisan, meneladani dengan kehidupan. Karena shalawat adalah ungkapan cinta, sedangkan akhlak adalah bukti cinta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....