Jangan Sampai Kesempatan Kebaikan Didahului Orang Lain
- 20 Jun 2026 18:10 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di dalamnya terdapat Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, hal ini dikatakan ustadz Nur Cholis Cholis, SE diacara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Jum'at (19/6/2026) pagi.
"Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di dalamnya terdapat Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, hari yang penuh keberkahan dan menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa dan sedekah," katanya.
Nur Cholis menceritkan di balik keutamaannya, terdapat sebuah kisah yang mengajarkan betapa pentingnya tidak menunda kebaikan.
Dikisahkan, pada suatu Hari Asyura di Kota Ray, hiduplah seorang qadhi atau hakim yang kaya raya dan terpandang. Pada hari itu, seorang fakir datang mengetuk pintu rumahnya. Dengan wajah penuh harap, ia memohon bantuan karena keluarganya sedang kelaparan.
“Aku hanya membutuhkan sepuluh potong roti, lima potong daging, dan dua dirham untuk keluargaku,” ujar sang fakir.
Sebenarnya, qadhi tersebut mampu memenuhi permintaan itu saat itu juga. Namun ia berkata, “Datanglah kembali saat waktu Zuhur, aku akan membantumu.”
Mendengar jawaban itu, sang fakir pulang dengan hati lega. Ia berharap keluarganya segera mendapatkan makanan. Namun ketika waktu Zuhur tiba dan ia kembali datang, bantuan yang dijanjikan belum juga diberikan. Ia menunggu hingga waktu Ashar, tetapi qadhi itu tetap belum memenuhi janjinya. Akhirnya, sang fakir pulang dengan langkah lemah dan hati sedih, memikirkan anak - anaknya yang menahan lapar di rumah.
Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang Nasrani. Karena terdesak keadaan, ia memberanikan diri meminta bantuan. Orang tersebut mendengarkan kisahnya dengan penuh perhatian. Tanpa banyak bertanya, ia langsung memberikan bantuan yang jauh melebihi permintaan sang fakir. Ia memberinya sepuluh karung gandum, seratus kantong daging, dua puluh dirham, bahkan berjanji akan membantu kebutuhan keluarganya setiap bulan selama ia masih hidup.
Sang fakir terharu dan tak kuasa menahan air mata. Ia menyadari bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah disangka - sangka.
Pada malam harinya, qadhi yang menunda bantuan itu bermimpi melihat dua istana yang sangat megah, terbuat dari emas, perak, dan batu yaqut merah yang berkilauan. Ketika ia bertanya siapa pemilik istana tersebut, terdengar suara yang menjawab bahwa istana itu awalnya disiapkan untuk dirinya. Namun karena ia menunda membantu seorang fakir pada Hari Asyura, kemuliaan tersebut diberikan kepada orang yang segera menolongnya.
Ketika qadhi bertanya siapa orang itu, suara tersebut menjawab, “Orang Nasrani yang membantu fakir tersebut.”
Sang qadhi terbangun dengan tubuh gemetar dan hati penuh penyesalan. Ia sadar bahwa kesempatan besar untuk meraih pahala telah hilang bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia menunda berbuat baik.
Keesokan harinya, ia menemui orang Nasrani itu dan menawarkan harta yang sangat banyak agar pahala amal tersebut diberikan kepadanya. Namun orang itu menolak seraya berkata, “Bagaimana mungkin aku menjual sesuatu yang nilainya lebih mahal daripada seluruh isi dunia?”
Mendengar jawaban itu, qadhi terkejut. Lebih mengejutkan lagi, orang Nasrani tersebut kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat setelah merasakan kebenaran dan hidayah yang Allah bukakan melalui kebaikan yang telah ia lakukan.
Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat berharga.
Pertama, jangan menunda kebaikan. Kesempatan beramal tidak selalu datang dua kali.
Kedua, sedekah yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sebab datangnya keberkahan dan hidayah.
Ketiga, kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, atau kedudukan, tetapi oleh ketulusan hati dan kesigapan dalam membantusesama.
Rasulullah bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
"Sedekah tidaklahmengurangiharta." (HR. Imam Muslim)
Sedekah bukanlah pengurangan harta, melainkan investasi akhirat. Apa yang diberikan kepada manusia sesungguhnya sedang dititipkan kepada Allah, dan Allah tidak pernah menyia - nyiakan kebaikan sekecil apa pun.
Menjelang Hari Asyura, marilah kita memperbanyak amal saleh, bersedekah, menyantuni anak yatim, membantu tetangga yang kesulitan, dan berlomba - lomba dalam kebaikan. Jangan menunggu kaya, jangan menunggu waktu luang, dan janga nmenunggu kesempatan yang sempurna. Sebab bisa jadi, satu kebaikan yang kita tunda hari ini akan menjadi kemuliaan bagi orang lain esok hari. Dan bisa jadi pula, satu sedekah yang kita anggap kecil justru menjadi sebab datangnya keberkahan, keselamatan, dan hidayahdari Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....