Lebaran Yatim, Tradisi Cinta dan Kepedulian di Bulan Muharram

  • 26 Jun 2026 09:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Bulan Muharram tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah spiritual, tetapi juga menjadi saat yang paling tepat untuk mengasah kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim.

Pesan menyejukkan ini disampaikan oleh Ustadz Nur Cholis, SE dalam program acara "Cahyaning Ati" yang disiarkan langsung melalui Pro 4 RRI Malang pada Jumat (26/6/2026)

Dalam tausiyahnya, Ustadz Nur Cholis menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia memiliki tradisi luhur yang mengakar kuat setiap memasuki bulan pertama dalam kalender Hijriah, yaitu Lebaran Yatim.

“Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Selain menjadi momentum memperbanyak ibadah, bulan pertama dalam kalender Hijriah ini juga menjadi saat yang tepat untuk menumbuhkan kepedulian sosial,” ujar Ustadz Nur Cholis.

Ia menambahkan bahwa peringatan yang jatuh setiap 10 Muharram atau Hari Asyura ini memiliki makna filosofis yang mendalam bagi umat Muslim di tanah air.

“Di Indonesia, masyarakat mengenal sebuah tradisi mulia yang disebut Lebaran Yatim, yang diperingati setiap 10 Muharram bertepatan dengan Hari Asyura. Meski bukan hari raya yang ditetapkan dalam syariat Islam seperti Idulfitri atau Iduladha, tradisi ini telah menjadi simbol cinta, kepedulian, dan semangat berbagi kepada anak–anak yatim,” lanjutnya.

Lebaran Yatim lahir sebagai bentuk nyata dari ajaran Islam yang sangat memuliakan anak-anak yang telah kehilangan sosok ayah sebelum usia baligh. Mereka membutuhkan perhatian, kasih sayang, serta dukungan moral dan material dari lingkungan sekitar.

Ustadz Nur Cholis kemudian mengutip Surah Ad-Dhuha ayat 9 yang berbunyi, "Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang." Ayat tersebut menjadi pengingat tegas bahwa memuliakan anak yatim adalah cerminan keimanan seorang Muslim.

Tak hanya itu, beliau juga mengingatkan kembali sebuah hadis riwayat Imam Al-Bukhari tentang janji Rasulullah SAW bagi mereka yang merawat anak yatim.

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini,” ucap Ustadz Nur Cholis menirukan sabda Rasulullah SAW seraya merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Semangat memuliakan inilah yang memicu masjid, musala, sekolah, hingga berbagai komunitas sosial berlomba-lomba menggelar aksi nyata di bulan Muharram. Bantuan yang disalurkan pun kini semakin variatif dan kreatif.

  • Bantuan Materi: Uang tunai, paket sembako, pakaian baru, dan perlengkapan sekolah.
  • Bantuan Edukasi & Hiburan: Doa bersama, makan bersama, games edukatif, dan pemberian perhatian psikologis agar mereka merasa dicintai.

Sebagai penutup, Ustadz Nur Cholis mengajak seluruh pendengar untuk menjadikan momen Lebaran Yatim ini sebagai refleksi diri mengenai hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.

“Kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada banyaknya manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Dengan menghadirkan senyum di wajah anak–anak yatim, sesungguhnya kita sedang menanam amal yang bernilai besar di sisi Allah SWT serta memperkuat nilai kemanusiaan,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....