Kurban Diterima karena Ketakwaan dan Keikhlasan
- 31 Mei 2026 06:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Ibadah kurban tidak semata diukur dari mahalnya hewan yang disembelih atau banyaknya jumlah kurban yang diberikan. Dalam Islam, nilai utama kurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan orang yang menunaikannya.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Nur Cholis, S.E., saat menjelaskan hikmah Idul Adha melalui kisah Habil dan Qabil, dua putra Nabi Adam AS yang diabadikan dalam Al-Qur'an.
Menurutnya, kisah tersebut memberikan pelajaran penting bahwa Allah SWT tidak melihat besarnya persembahan secara lahiriah, melainkan ketulusan hati yang menyertainya.
“Yang membedakan kurban Habil dan Qabil bukan jenis atau jumlah persembahannya, tetapi isi hati yang membawanya. Habil memberikan yang terbaik karena cinta kepada Allah, sedangkan Qabil memberi tanpa keikhlasan,” ujarnya.
Ustadz Nur Cholis menjelaskan, ketika Allah memerintahkan keduanya berkurban, Habil memilih hewan ternak terbaik yang paling sehat dan paling ia sayangi. Sebaliknya, Qabil justru mempersembahkan hasil panen yang kurang baik dan tidak memberikan yang terbaik dari apa yang dimilikinya.
Menurut riwayat para ulama, pada masa itu tanda diterimanya kurban adalah turunnya api dari langit yang menyambar persembahan. Kurban Habil diterima, sedangkan persembahan Qabil tidak diterima.
Ia menegaskan, pesan utama dari kisah tersebut tercermin dalam firman Allah SWT pada Surat Al-Ma'idah ayat 27, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
“Kalimat ini mengajarkan bahwa Allah tidak melihat penampilan amal semata. Yang menjadi ukuran adalah ketakwaan dan keikhlasan yang ada dalam hati seseorang,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kisah Habil dan Qabil juga menjadi pelajaran tentang bahaya iri hati atau hasad. Menurutnya, rasa iri yang dibiarkan tumbuh dapat menghilangkan rasa syukur dan mendorong seseorang melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Banyak orang merasa gelisah bukan karena kekurangan, tetapi karena terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal setiap orang memiliki nikmat dan ujian yang berbeda,” jelasnya.
Menjelang dan setelah Idul Adha, ia mengajak umat Islam memahami makna kurban secara lebih mendalam. Kurban tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan, tetapi juga menjadi sarana melatih keikhlasan, mengendalikan ego, menghilangkan sifat kikir, serta meningkatkan kepedulian sosial.
Hal itu sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari orang yang berkurban.
“Pada akhirnya yang diterima Allah bukanlah besarnya persembahan, melainkan besarnya ketakwaan yang menyertainya. Karena itu, mari belajar dari ketulusan Habil, memperbanyak syukur, menjauhi iri hati, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Allah SWT,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....