Jalan menuju Allah di Bulan Dzulhijjah Tak Selalu lewat Ka’bah
- 22 Mei 2026 15:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang -Dalam program kajian Islami Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang, Jumat (22/5/2026), Ustad Nur Cholis menyampaikan tausiyah bertema “Di Bulan Dzulhijjah Jalan Langit Tidak Selalu Lewat Ka’bah.” Melalui tema tersebut, ia mengajak umat Islam memahami bahwa kedekatan kepada Allah tidak hanya melalui ibadah haji, tetapi juga lewat keikhlasan, kepedulian sosial, dan amal saleh kepada sesama.
Dalam tausiyahnya, Ustad Nur Cholis menjelaskan bahwa bulan Dzulhijjah merupakan salah satu waktu terbaik untuk memperbanyak amal ibadah. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurutnya, momentum tersebut menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperkuat ibadah sekaligus membersihkan hati dari sifat sombong, iri, dan cinta dunia yang berlebihan.
“Kadang kita merasa jalan menuju Allah hanya lewat ibadah besar, padahal Allah juga melihat ketulusan hati dan kepedulian kepada sesama,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dzulhijjah juga mengajarkan keteladanan Nabi Ismail AS dan Siti Hajar tentang ketaatan, kesabaran, serta tawakal kepada Allah SWT. Selain itu, umat Islam yang belum mampu berhaji tetap dapat meraih kemuliaan melalui ibadah kurban, sedekah, dan membantu sesama yang membutuhkan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustad Nur Cholis mengisahkan cerita penuh hikmah tentang Abdullah bin Mubarak yang bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit saat musim haji. Dalam mimpi itu disebutkan ribuan orang berhaji, namun tidak ada yang diterima hajinya. Sebaliknya, ada seorang yang tidak berhaji tetapi memperoleh pahala haji mabrur karena ketulusan amalnya, yakni Ali bin Muafak, seorang tukang sol sepatu di Damaskus.
Ali bin Muafak diceritakan telah menabung bertahun-tahun untuk berhaji hingga terkumpul 300 dirham. Namun niat itu dibatalkan setelah mengetahui tetangganya, seorang janda dengan enam anak, kelaparan hingga terpaksa memasak bangkai keledai demi bertahan hidup. Dengan penuh haru, Ali dan istrinya akhirnya memberikan seluruh tabungan hajinya kepada keluarga tersebut untuk kebutuhan makan dan modal usaha.
“Mungkin kita merasa ibadah besar adalah segalanya, tetapi Allah juga menilai bagaimana kita peduli terhadap orang-orang di sekitar kita,” kata Ustad Nur Cholis.
Ia menegaskan bahwa ibadah haji tetap wajib bagi umat Islam yang mampu. Namun, menurutnya, kepedulian sosial yang dilakukan dengan ikhlas juga memiliki nilai kemuliaan yang besar di sisi Allah SWT. Ia mengingatkan pentingnya memperhatikan kondisi tetangga dan masyarakat sekitar, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
“Kadang ada orang yang setiap tahun pergi haji atau umrah, tetapi masih ada tetangga yang kelaparan dan tidak diperhatikan,” tuturnya sambil mengutip hadis Rasulullah SAW bahwa tidak sempurna iman seseorang yang kenyang sementara tetangganya lapar.
Di akhir tausiyah, Ustad Nur Cholis mengajak umat Islam menjadikan bulan Dzulhijjah sebagai momentum memperbanyak amal saleh, membantu sesama semampunya, dan menghadirkan hati yang lebih lembut terhadap penderitaan orang lain. Menurutnya, kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus sering kali lebih dicintai Allah dibanding amal besar yang disertai riya . (Mey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....