Kemuliaan Bulan Haram Jadi Pengingat Perbaiki Diri
- 11 Mei 2026 19:10 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Empat bulan haram dalam kalender Hijriah menjadi waktu yang dimuliakan Allah SWT dan memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Pada bulan-bulan tersebut, umat muslim dianjurkan memperbanyak amal ibadah sekaligus menjauhi segala bentuk perbuatan zalim. Keutamaan empat bulan haram itu dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36 yang menerangkan tentang dua belas bulan dalam setahun, dengan empat di antaranya sebagai bulan yang disucikan.
Keempat bulan haram tersebut terdiri dari Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Tiga bulan datang secara berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan Rajab berada terpisah di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. Penetapan bulan haram ini telah ada sejak Allah menciptakan langit dan bumi serta menjadi bagian dari ketentuan agama yang lurus bagi umat manusia.
Ustadzah Rukmini Amar M.Ap dalam tausiyah Mutiara Pagi menjelaskan bulan haram memiliki makna penting karena menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan. Menurutnya, pada bulan-bulan tersebut umat muslim dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menghindari tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. “Allah memuliakan empat bulan ini sehingga umat Islam dianjurkan menjaga perilaku, memperbanyak ibadah, dan menjauhi perbuatan dosa,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Ia menuturkan, istilah bulan haram bukan berarti bulan yang menakutkan, melainkan bulan yang dimuliakan dan dihormati. Pada masa itu, segala bentuk kezaliman sangat dilarang karena dosa yang dilakukan nilainya lebih besar dibanding bulan lainnya. Sebaliknya, pahala ibadah juga akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. “Bulan haram menjadi pengingat agar manusia lebih berhati-hati dalam bertindak dan memperbaiki hubungan dengan sesama maupun kepada Allah,” katanya.
Menurutnya, sejak zaman dahulu masyarakat Arab bahkan sangat menghormati bulan-bulan haram dengan menghentikan peperangan dan balas dendam. Tradisi itu menunjukkan bahwa bulan haram identik dengan suasana damai dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. “Dulu orang Arab sangat menjaga kesucian bulan haram. Bahkan ketika ada anggota keluarganya terbunuh, mereka menahan diri untuk tidak membalas demi menghormati bulan tersebut,” jelasnya.
Selain menghindari kezaliman, umat Islam juga dianjurkan memaksimalkan berbagai ibadah sunnah selama bulan haram. Pada bulan Muharram misalnya, umat muslim dianjurkan memperbanyak puasa sunnah dan sedekah. Sementara di bulan Dzulhijjah terdapat ibadah haji dan kurban yang menjadi amalan utama bagi umat Islam yang mampu. “Momentum bulan haram bisa dijadikan kesempatan memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan membangun kebiasaan baik secara bertahap,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Islam tetap memperbolehkan umat muslim mempertahankan diri apabila mendapatkan serangan atau ancaman pada bulan haram. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surat At-Taubah ayat 217 yang menerangkan bahwa peperangan pada bulan haram merupakan dosa besar, namun tindakan menghalangi manusia dari jalan Allah dan melakukan kezaliman memiliki dosa yang lebih besar lagi. “Islam mengajarkan kedamaian, tetapi umat muslim tetap wajib menjaga diri jika berada dalam ancaman,” ucapnya.
Rukmini berharap umat Islam dapat memanfaatkan datangnya bulan haram sebagai sarana meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, bulan-bulan mulia tersebut bukan hanya sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki akhlak dan memperkuat nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....