Nabi Ibrahim dan Ismail, Teladan Ketaatan pada Allah
- 19 Mei 2026 09:31 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Menjelang Hari Raya Iduladha, Ustadz Drs. H. Moh. Rosyad, M.Si mengajak umat Islam meneladani kesabaran, pengorbanan, dan ketaatan Nabi Ibrahim serta Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dalam tausiyahnya di program Mutiara Pagi RRI Malang, Ustadz Rosyad menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim merupakan sosok istimewa yang memiliki banyak gelar mulia, seperti Ulul Azmi karena kesabarannya yang luar biasa, Abul Anbiya sebagai bapak para nabi, hingga Khalilullah atau kekasih Allah karena seluruh pilihan hidupnya selalu berpihak kepada perintah Allah. Menurutnya, keteguhan tauhid Nabi Ibrahim sudah terlihat sejak menghadapi ayahnya sendiri, Azar, yang bekerja membuat patung untuk disembah masyarakat saat itu.
Ustadz Rosyad menuturkan, Nabi Ibrahim pernah menghancurkan seluruh patung berhala dan menyisakan satu patung besar untuk membuka pemahaman masyarakat bahwa patung tidak layak disembah. “Nabi Ibrahim berkata, kalau patung itu tidak bisa menjawab dan tidak bisa melindungi umatnya, lalu kenapa disembah sebagai Tuhan? Dari situlah beliau mengajarkan tauhid yang murni,” ujarnya pada Selasa (19/5/2026) dalam tausiyah Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Malang. Akibat perbuatannya, Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud. Namun dengan keyakinan dan pertolongan Allah, beliau selamat dari kobaran api. Kisah tersebut, menurut Ustadz Rosyad, menjadi bukti bahwa perjuangan mempertahankan keimanan membutuhkan keberanian dan pengorbanan besar.
Selain perjuangan dalam menegakkan tauhid, Ustadz Rosyad juga mengingatkan tentang kesabaran Nabi Ibrahim yang selama puluhan tahun belum dikaruniai keturunan. Selama 86 tahun, Nabi Ibrahim terus memanjatkan doa kepada Allah agar diberikan anak yang saleh. “Beliau berdoa, Rabbi habli minashalihin, ya Allah berikan aku keturunan yang saleh. Setelah sekian lama menanti, akhirnya Allah memberikan Nabi Ismail,” jelasnya. Namun ujian besar kembali datang ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putranya sendiri. Menurut Ustadz Rosyad, perintah tersebut menjadi simbol pengorbanan tertinggi seorang hamba dalam menaati Allah. “Bayangkan anak yang ditunggu 86 tahun harus disembelih. Ini bentuk pengorbanan luar biasa demi menjalankan perintah Allah,” katanya.
Keteladanan juga ditunjukkan oleh Siti Hajar dan Nabi Ismail. Saat ditinggalkan Nabi Ibrahim di padang pasir Mekkah yang tandus tanpa makanan dan air, Siti Hajar tetap yakin bahwa itu adalah perintah Allah. Dengan penuh keistiqamahan, ia berusaha mencari air dengan berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali hingga akhirnya Allah memunculkan air zamzam dari jejak kaki Nabi Ismail. “Siapa pun yang beriman, sabar, istiqamah, terus berusaha dan yakin kepada Allah, maka pertolongan Allah akan datang,” tutur Ustadz Rosyad. Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut kini diabadikan dalam rangkaian ibadah sa’i saat haji dan umrah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Siti Hajar.
Lebih lanjut, Ustadz Rosyad menegaskan bahwa ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan bentuk ketakwaan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Ia menekankan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging ataupun darah hewan kurban, tetapi keikhlasan dan ketakwaan orang yang berkurban. “Kurban bukan hanya untuk yang mampu, tapi untuk yang mau. Banyak yang mampu tetapi enggan berkurban karena terlalu sayang pada hartanya,” ujarnya. Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa orang yang mampu tetapi tidak mau berkurban sebaiknya tidak mendekati tempat salat Rasulullah. Melalui momentum Iduladha, Ustadz Rosyad berharap umat Islam semakin sabar, istiqamah, dan taat dalam menjalankan seluruh perintah Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....