Al-Qur’an Jadi Penenang Jiwa, Solusi Kesehatan Mental di Era Modern

  • 26 Apr 2026 13:51 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dibangunkan dalam keadaan sehat secara fisik dan mental merupakan anugerah besar bagi setiap manusia. Kesadaran ini penting terutama di tengah meningkatnya isu kesehatan mental saat ini.

Fenomena gangguan mental pada generasi muda juga menjadi perhatian dalam berbagai kajian keislaman. Islam sendiri telah memberikan pedoman hidup melalui Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan.

“Dibangunkan pagi hari dalam keadaan sehat itu anugerah luar biasa yang sering kita lupakan,” ujar Ustazah Lailatul Fithriyah dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang, Sabtu (25/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an disebut sebagai penawar dalam QS Al-Isra ayat 82. Ayat tersebut berbunyi bahwa Al-Qur’an menjadi obat dan rahmat bagi orang beriman.

Menurutnya, sebagian ulama menafsirkan ayat itu untuk penyembuhan fisik dan mental. Namun, aspek terapi mental dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini.

Ia juga mengutip QS Ar-Ra’d ayat 28 yang menyebut dzikir menenangkan hati manusia. Mengingat Allah, termasuk membaca Al-Qur’an, menjadi salah satu bentuk dzikir tersebut.

Namun, ia mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an tidak sekadar mengejar target khatam. Pemahaman terhadap makna ayat dinilai penting agar fungsi ketenangan dapat dirasakan maksimal.

“Kalau hanya membaca tanpa memahami, fungsi Al-Qur’an sebagai penenang belum optimal,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengutip QS Luqman ayat 34 tentang ketidakpastian masa depan manusia. Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.

Menurutnya, kecemasan sering muncul karena manusia terlalu memikirkan masa depan. Padahal, ketentuan tersebut sepenuhnya berada dalam kuasa Allah.

Ia juga menjelaskan bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah bagi setiap makhluk. Namun, hal itu bukan berarti manusia boleh meninggalkan usaha dan ikhtiar.

“Jangan terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sudah Allah tentukan, hingga melupakan ibadah,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara usaha dan ketenangan hati.

Selain itu, ia mengutip QS Ali Imran ayat 153 yang membahas kesedihan dan ujian. Menurutnya, kondisi sulit mengajarkan manusia untuk kembali bergantung kepada Allah.

Ia menambahkan bahwa setiap musibah membawa pesan dan pelajaran bagi kehidupan. Tidak ada yang mampu membangkitkan manusia selain pertolongan dari Allah.

Sebagai penutup, ia mengingatkan QS Al-Baqarah ayat 286 tentang kemampuan manusia menghadapi ujian. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.

Ia mengibaratkan ujian seperti beban yang disesuaikan dengan kekuatan masing-masing manusia. Karena itu, setiap kesulitan diyakini memiliki batas yang mampu dilalui.

Melalui pemahaman Al-Qur’an yang lebih mendalam, masyarakat diharapkan mampu menjaga kesehatan mental. Ketenangan jiwa dapat dicapai dengan mendekatkan diri kepada Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....