Makanan Halal dan Haram Pengaruhi Kualitas Iman dan Kehidupan
- 20 Apr 2026 12:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengonsumsi makanan halal dan baik (halalan thayyiban) terus menjadi perhatian dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, makanan yang dikonsumsi juga memiliki dampak besar terhadap kondisi spiritual dan kualitas ibadah seseorang. Hal ini disampaikan oleh Ustadzah Eny Sri Widyastuti dalam sebyang menyoroti hubungan erat antara makanan, iman, dan ketakwaan.
Menurut Ustadzah Eny Sri Widyastuti, Islam telah memberikan pedoman yang jelas mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan umat manusia untuk memakan rezeki yang halal dan baik, sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqarah dan Al-Ma’idah. “Apa yang kita makan itu bukan hanya menjadi energi bagi tubuh, tetapi juga memengaruhi hati dan keimanan kita. Makanan yang halal akan membawa kita lebih dekat kepada Allah,” ujarnya kepada RRI Malang pada Sabtu(18/8/2026).
| Baca juga: Amalan Utama 10 Hari di Bulan Dzulhijah |
Ia menjelaskan bahwa pengaruh makanan dapat dirasakan baik secara jasmani maupun rohani. Dari sisi fisik, tubuh membutuhkan nutrisi yang seimbang untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Sementara dari sisi spiritual, makanan yang baik dapat membantu menjernihkan hati dan meningkatkan kekhusyukan dalam beribadah. “Kalau makanan kita baik, insyaAllah hati kita juga lebih mudah lembut dan ibadah menjadi lebih khusyuk,” kata Ustadzah Eny.
Sebaliknya, makanan yang haram atau diperoleh dengan cara yang tidak halal dapat memberikan dampak negatif yang serius. Ustadzah Eny mengingatkan bahwa salah satu konsekuensi yang sering tidak disadari adalah terhalangnya doa. “Rasulullah sudah mengingatkan, ketika seseorang makan dari yang haram, maka doanya bisa tidak dikabulkan. Ini yang sering kita abaikan,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa hati bisa menjadi keras dan iman menjadi lemah jika seseorang tidak menjaga asupan makanannya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kehalalan makanan tidak hanya dilihat dari zatnya, tetapi juga dari proses dan cara memperolehnya. Makanan yang secara zat halal bisa menjadi tidak baik jika didapatkan melalui cara yang haram. “Halal itu menyeluruh, dari bahan, proses, sampai cara mendapatkannya. Jadi tidak cukup hanya melihat bentuk makanannya saja,” tegasnya.
Ustadzah Eny berharap masyarakat semakin selektif dalam memilih makanan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas iman dan kehidupan. Ia menutup dengan pesan agar umat Islam senantiasa berhati-hati dalam setiap yang dikonsumsi. “Mari kita jaga apa yang masuk ke tubuh kita, karena dari situlah akan terbentuk pribadi, ibadah, dan masa depan kita, termasuk keturunan yang kita harapkan menjadi generasi sholeh dan sholehah,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....