10 Hari Pertama Dzulhijjah Jadi Momentum Memperbanyak Amal Saleh

  • 13 Mei 2026 06:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Program Tausyiah Mutiara Pagi PRO 1 RRI Malang menghadirkan kajian Al-Qur’an bersama Ustadzah Hj. Dra. Rukmini Amar dengan tema Surat Al Fajr dan keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam kajian tersebut, narasumber mengajak umat Islam memahami makna sumpah Allah dalam Surat Al Fajr sebagai pengingat pentingnya waktu, ibadah, dan pengendalian diri.

Ustadzah Rukmini menjelaskan bahwa Surat Al Fajr diawali dengan sumpah Allah atas waktu fajar dan malam-malam tertentu. Ia menerangkan bahwa para ulama memiliki beberapa penafsiran mengenai ayat “walayalin ‘asyr” atau “demi malam yang sepuluh”, salah satunya merujuk pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang memiliki kemuliaan besar di sisi Allah. Selain itu, ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan 10 malam terakhir Ramadan.

“Fajar menunjukkan pergantian waktu dari malam menuju pagi. Dalam Islam, waktu sangat dimuliakan. Karena itu umat Islam diperintahkan menjaga sholat Subuh, apalagi jika dilaksanakan berjamaah yang nilainya sangat besar di sisi Allah,” ujar Ustadzah Rukmini dalam siaran tersebut, Rabu (13/5/2026).

Ia menambahkan, Islam mengajarkan manajemen waktu melalui kalender hijriah yang dimulai sejak terbenam matahari hingga terbenam berikutnya. Menurutnya, pergantian waktu bukan sekadar perubahan hari, tetapi momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.

Dalam kajian itu, Ustadzah Rukmini juga mengulas kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun yang disebut dalam Surat Al Fajr. Kaum-kaum tersebut dikenal memiliki kekuatan, bangunan megah, dan kekuasaan besar, namun akhirnya dihancurkan Allah akibat kesombongan dan kedurhakaan mereka.

“Allah menghancurkan mereka bukan karena hartanya, bukan karena bangunannya, tetapi karena kesombongan dan kezaliman mereka. Maka manusia diingatkan agar tidak mengambil hak orang lain dan memiliki jiwa yang lapang menerima perintah Allah,” jelasnya.

Kajian semakin mendalam ketika narasumber mengaitkan Surat Al Fajr dengan hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan amal saleh di 10 hari pertama Dzulhijjah. Hadis riwayat Imam Bukhari menyebutkan bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari tersebut.

“Rasulullah bersabda, tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah daripada amal pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Bahkan para sahabat bertanya apakah lebih utama daripada jihad di jalan Allah, dan Rasulullah menjelaskan bahwa amal saleh di hari-hari itu sangat istimewa, kecuali orang yang berjihad lalu gugur syahid dengan seluruh harta dan jiwanya,” terang Ustadzah Rukmini.

Menurutnya, kesempatan meraih pahala besar tidak hanya dimiliki oleh jamaah haji. Bagi umat Islam yang belum mampu berhaji, Allah tetap membuka peluang melalui berbagai amal ibadah seperti puasa Dzulhijjah, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menyantuni anak yatim, hingga berkurban pada Idul Adha.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak tahlil, tahmid, dan takbir selama hari-hari mulia tersebut. Takbir menjadi pengingat agar manusia tidak membesarkan ego dan kesombongannya, sedangkan tahmid merupakan bentuk pujian kepada Allah yang harus diwujudkan dalam rasa syukur melalui amal nyata.

“Semua ibadah itu ada yang bersifat jasmani, rohani, maupun harta. Semuanya menjadi bentuk terima kasih kita kepada Allah atas nikmat kehidupan yang diberikan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....