Halal Bihalal, Dari Rumah ke Rumah atau Dari Hati ke Hati

  • 03 Apr 2026 08:04 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Ustad Nur Cholis, SE dalam acara Cahyaning Ati Pro 4 RRI Malang, Jum’at (3/4/2025) pagi, menceritakan kisah seorang murid yang bertanya kepada gurunya tentang silaturahmi tetapi hati tetapi kosong.

Ada seorang murid bertanya kepada gurunya, “Mengapa aku bersilaturahmi, tapi hatiku kosong?”. Sang guru menjawab, Karena engkau berjalan dari rumah kerumah, tapi belum berjalan dari hati ke hati.

Rasulullahbersabda: “Sesungguhnya Allah tidakmelihatrupa dan harta kalian, tetapi Dia melihathati dan amal kalian” (HR. Muslim). Maka yang dinilai bukan langkah kaki kita, tapi keadaan hati kita.

Silaturahmi bukan sekadar tradisisosial, melainkan ibadah yang agung.

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan manusia, tapi juga membuka pintu keberkahan dari Allah.

Beliau menjelaskan bahwa dalam silaturahmi itu juga ada adab yang harus dijaga.

“Dalam bersilaturahmi ada adab yang harus dijaga, pertama datanglah di waktu yang tepat, karena setiap rumah memiliki keadaan yang berbeda.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan member salam kepada penghuninya” (QS. An-Nur: 27).

Selanjutnya, member kabar sebelum datang adalah bagian dari menjaga adab dan menghormati orang lain. Silaturahmi atau halal bihalal bukan tentang lamanya duduk, tapi tentang dalamnya rasa. Rasulullah mengajarkan keseimbangan dalam bertamu, tidak memberatkan tuan rumah. Dalam hadis disebutkan bahwa tamu memiliki hak, namun juga ada batas agar tidak menyulitkan. Maka pertemuan yang singkat namun penuh keikhlasan lebih bernilai dari pada lama namun kosong makna.

Jagalah lisan kita saat bertemu. Jangan sampai ucapan kita melukai hati orang lain. Rasulullah bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik ata udiam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebaran bukan tempat membuka luka lama, tapi saat menyembuhkan dan menguatkan kembali hubungan. Berbicaralah dengan lembut, penuh doa dan kebaikan. Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik” (QS. Al-Isra: 53). Kata-kata yang lembut ibarat hujan yang menenangkan, mampu menyuburkan hati yang gersang. Mendengarkan pun adalah ibadah, ketika kita benar-benar hadir dan memperhatikan orang lain, itu adalah bentuk akhlak mulia. Rasulullah dikenal sebagai pendengar yang baik, tidak memotong pembicaraan, dan menghadapkan seluruh tubuhnya kepada lawan bicara. Inilah bentuk penghormatan yang sering kita lupakan.

Kemudian membawa buah tangan juga memiliki makna yang dalam. Rasulullah bersabda : “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad). Hadiah bukan tentang nilai, tapi tentang ketulusan yang mengikat hati manusia dengan kasihsayang.

Bagi yang menjadi tuan rumah, jadilah pribadi yang lapang. Rasulullah bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim). Memuliakan tam utidak harus dengan kemewahan, tapi dengan sikap hangat, senyum, dan penerimaan yang tulus, sajian sederhana tidak mengurangi nilai silaturahmi.

Dari ego menuju jiwa, darij iwamenuju ruh, hingga kita semakin dekat kepada Allah Dalam setiap pertemuan yang tulus, ada jejak kehadiran-Nya. Maka hidupkanlah hati dalam setiap silaturahmi, karena bis jadi di situlah kita sedang berjalan menuju ridha-Nya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....