Penjelasan Mengenai Syarat Sah dan Keutamaan Puasa Ramadhan

  • 19 Feb 2026 16:29 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dalam dialog Islami Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang pada Kamis, 19 Februari 2026, Kyai H. Muhammad Syafi’ Na’im menyampaikan bahwa Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa sebagai anugerah bagi umat Nabi Muhammad. Menurut beliau, terdapat keutamaan-keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelum Nabi Muhammad, sehingga umat Islam patut mensyukuri dan memaksimalkan ibadah di dalamnya, khususnya puasa.

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa syarat sah puasa memiliki beberapa rukun yang harus dipenuhi, yang pertama adalah niat. Niat merupakan syarat mutlak sahnya puasa, sebagaimana hadis Nabi yang menegaskan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya.

"Niat yang paling utama adalah di dalam hati, sedangkan melafalkannya dengan lisan hukumnya sunnah. Prinsip ini juga berlaku dalam ibadah lain seperti wudhu dan salat, yang terpenting adalah keteguhan niat dalam hati," Jelas Ustaz Syafi'.

Kedua, seorang yang berpuasa wajib menjauhi segala hal yang dapat membatalkan puasa. Di antaranya memasukkan sesuatu ke dalam tubuh melalui lubang asli seperti mulut, hidung, telinga, serta bagian depan dan belakang.

Selain itu, muntah dengan sengaja juga membatalkan puasa. Larangan yang lebih berat adalah berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan, karena tidak hanya membatalkan puasa tetapi juga mewajibkan qadha serta kafarat.

"Kafarat tersebut berupa membebaskan budak (pada masa dahulu), atau berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin. Sementara itu, perempuan yang sedang haid atau nifas diwajibkan membatalkan puasanya karena haram berpuasa dalam kondisi tersebut," urainya.

Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa ada perbuatan yang tidak membatalkan puasa secara hukum, seperti suntik atau infus yang tidak melalui lubang asli. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang dapat menghilangkan pahala puasa. Di antaranya berdusta, ghibah, adu domba, memandang lawan jenis dengan syahwat, sumpah palsu, hingga bertengkar.

"Puasa tetap sah, tetapi pahalanya bisa hilang. Karena itu, puasa secara hakikat bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang dilarang Allah," katanya.

Kyai Syafi’ Na’im mengingatkan sabda Nabi bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata. Makna shaum sendiri adalah menahan, yakni menahan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa.

Apabila seseorang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dalam hadis qudsi juga disebutkan bahwa semua amal ibadah adalah untuk manusia, kecuali puasa, karena Allah sendiri yang akan langsung memberikan balasannya.

Di akhir dialog, beliau memaparkan lima keistimewaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad di bulan Ramadan. Pertama, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Kedua, para malaikat mendoakan orang yang berpuasa sejak imsak hingga berbuka. Ketiga, setan-setan dibelenggu. Keempat, surga dihias untuk menyambut orang-orang yang berpuasa. Dan kelima, setiap malam Allah memandang hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan penuh kasih sayang.

"Orang yang berpuasa juga dijanjikan dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Allah menerima balasan pahala-Nya," tutupnya. (Mey)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....