Dari Sampah Dapur, Warga Diajak Ubah Kebiasaan Jaga Lingkungan

  • 18 Agt 2026 12:08 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Kebiasaan sederhana di rumah, seperti memilah sampah organik dan anorganik, dinilai dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Kresnawati Imansari, ibu rumah tangga yang sudah cukup lama aktif mengolah sampah organik di rumah. Latar belakangnya di bidang pertanian membuatnya melihat sampah rumah tangga dengan cara berbeda, khususnya berbagai sisa dapur yang masih memiliki manfaat.

“Kalau saya melihat sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, itu harta karun buat saya,” kata Kresnawati saat dikonfirmasi RRI, Selasa (18/8/2026).

Kebiasaan tersebut membuat berbagai sisa dapur tidak langsung dibuang. Kulit bawang, cangkang telur, air cucian beras, hingga ampas kopi dipisahkan untuk kemudian dimanfaatkan kembali.

Ampas kopi, misalnya, dapat diolah menjadi bahan pupuk untuk tanaman. Kresnawati menjelaskan, ampas kopi yang telah digunakan dapat dicuci untuk menghilangkan sisa gula atau campuran lainnya, kemudian dikeringkan sebelum dimanfaatkan sebagai pupuk.

"Selain bentuk padat, ampas kopi juga dapat diolah menjadi pupuk cair melalui proses fermentasi menggunakan molase atau tetes tebu. Pemanfaatan ini lebih bermanfaat dibandingkan membuang ampas kopi ke saluran air yang berpotensi menyebabkan penyumbatan," jelasnya.

Menurut Kresnawati, perubahan cara pandang terhadap sampah menjadi salah satu dampak yang paling terasa setelah rutin melakukan pemilahan dan pengolahan sampah di rumah. Kegiatan tersebut juga membuat keluarga lebih menghargai makanan dan tanaman yang mereka hasilkan.

Ia kemudian mulai mengenalkan kebiasaan tersebut kepada lingkungan sekitar, termasuk kelompok ibu-ibu pengajian. Namun, edukasi tidak langsung diarahkan pada praktik pengomposan yang lebih kompleks.

"Langkah pertama yang dilakukan adalah mengajarkan pemilahan sampah organik dan anorganik," ujarnya.

Kresnawati menilai pendekatan tersebut penting karena perubahan kebiasaan membutuhkan proses. Masyarakat perlu mengenal dan memahami persoalan sampah terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap pengolahan.

“Mulai saja dulu dari rumah dengan memilah sampah. Memilah sampah organik dan anorganik adalah kegiatan yang sangat mulia saat ini,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut apabila dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak lebih luas. Jika satu rumah mulai memilah dan mengolah sampah, kemudian diikuti rumah lainnya, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi gerakan di tingkat lingkungan.

Kresnawati bahkan menilai dampak terbesar bukan hanya berkurangnya sampah yang dibuang, tetapi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan.

Rumah, menurutnya, dapat menjadi tempat pertama untuk belajar menjaga bumi. Kebiasaan orang tua dalam memilah dan mengolah sampah juga berpotensi ditiru oleh anak-anak sehingga kepedulian lingkungan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Melalui langkah sederhana tersebut, masyarakat diajak tidak lagi melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Sebagian sampah rumah tangga masih dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi tanah, tanaman, dan lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....