Eco-Enzyme, Cara Gung Endah Ubah Limbah Organik Jadi Produk Multifungsi
- 08 Sep 2026 11:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kepedulian terhadap persoalan sampah mengantarkan Gung Endah Tuti Rahayu mendalami pembuatan eco-enzyme. Berawal dari keinginan mencari alternatif pupuk untuk tanaman porang, ia kemudian mengenal eco-enzyme dan aktif mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan limbah organik melalui proses fermentasi.
Dalam talkshow Spada Pro 2 Malang, Gung Endah menceritakan dirinya mulai mengenal eco-enzyme pada 21 Januari 2020, setelah kepergian pasangannya. Saat itu, ia diajak salah seorang teman untuk bergabung dalam sebuah grup yang mempelajari pembuatan eco-enzyme.
Ketika itu, Gung Endah tengah mencari alternatif pupuk untuk tanaman porang. Dari perkenalan tersebut, ia mulai mencoba memanfaatkan eco-enzyme sebagai salah satu alternatif untuk mendukung kegiatan pertanian.
“Dari tawaran teman inilah saya akhirnya mengenal eco-enzyme. Saat itu saya mencari alternatif pupuk untuk tanaman porang. Teman saya mengatakan eco-enzyme ini bisa menjadi pupuk,” ujar Gung Endah.
Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik, terutama kulit buah dan sayuran, dengan campuran air dan gula. Dalam proses pembuatannya, Gung Endah menjelaskan formula yang digunakan memiliki perbandingan 1:3:10, yaitu satu bagian gula, tiga bagian kulit buah atau sayuran, dan sepuluh bagian air.
Proses fermentasi dilakukan selama kurang lebih tiga bulan menggunakan wadah yang tertutup rapat. Ia juga menekankan bahwa bahan organik yang digunakan harus diperhatikan kondisinya, yakni berupa bahan mentah yang tidak terlalu matang, busuk, maupun berjamur.
Menurut Gung Endah, eco-enzyme memiliki beragam manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Cairan hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari membantu membersihkan rumah hingga mendukung kegiatan pertanian.
Tidak hanya cairannya, sisa ampas dari proses fermentasi juga masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Dengan demikian, proses pengolahan sampah organik tersebut dapat menghasilkan produk yang kembali dimanfaatkan sekaligus mengurangi limbah yang terbuang.
Namun, bagi Gung Endah, manfaat eco-enzyme tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan produk hasil fermentasi. Lebih jauh, pengolahan sampah organik dari rumah juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA) dan menjaga lingkungan.
Ia menjelaskan, sampah organik yang dibuang dan menumpuk di TPA dapat menghasilkan gas metana selama proses penguraian. Gas tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Karena itu, menurutnya, pengelolaan sampah organik sebaiknya dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Sampah organik yang diolah sejak dari rumah tidak harus seluruhnya berakhir di TPA, sehingga dapat membantu mengurangi volume sampah yang diangkut dan ditimbun.
Kini, Gung Endah aktif memberikan edukasi mengenai eco-enzyme kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan. Ia juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan edukasinya dan mengenalkan cara
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....