ECOTON Kelola Sampah Organik dari Rumah melalui Program Kampung MOZAIK

  • 08 Sep 2026 11:31 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Edukasi mengenai pemilahan dan pengolahan sampah organik terus digencarkan oleh ECOTON melalui Program Kampung MOZAIK. Program ini mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap lingkungan sekaligus membangun kebiasaan mengelola sampah secara mandiri mulai dari rumah.

Kader Surabaya Hebat (KSH) RW 08 Kelurahan Kapasmadya Baru, Kota Surabaya, menjadi salah satu kelompok masyarakat yang mengikuti kegiatan edukasi tersebut. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para kader dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya sampah organik.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumber serta berbagai cara mengolah sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di tempat penampungan maupun tempat pemrosesan akhir.

Salah satu hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah pemberian ORBIN (Organic Bin) kepada KSH. Alat tersebut dapat digunakan sebagai wadah pengumpulan sampah organik rumah tangga sebelum diolah lebih lanjut. Selain itu, ECOTON juga membagikan poster edukasi pemilahan sampah untuk dipasang di rumah-rumah warga. Media tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh anggota keluarga mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.

“Pemilahan sampah harus dimulai dari rumah. Melalui pendampingan KSH, penggunaan ORBIN, dan media edukasi keluarga, masyarakat diharapkan dapat membangun kebiasaan mengelola sampah secara mandiri dan konsisten,” ujar Tonis Afrianto, Waste Prevention Manager ECOTON.

KSH memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan di lingkungan permukiman. Setelah mengikuti kegiatan ini, para kader diharapkan mampu menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat serta mendampingi keluarga-keluarga di wilayahnya untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, yakni sampah organik, sampah yang dapat didaur ulang, dan sampah residu.

Upaya tersebut dinilai penting untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri di tingkat rumah tangga. Dengan pemilahan sejak dari sumber, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah residu dibuang pada tempat yang semestinya.

“Menurut saya, warga memang perlu diajak mandiri mengelola sampah agar tidak terjadi tumpukan sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos, sampah yang dapat didaur ulang dijual, sedangkan residu yang kotor dibuang ke tong sampah. Dengan begitu, kepedulian warga terhadap lingkungan juga meningkat,” terang Suliani, kader KSH RW 08.

Pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang harus diangkut menuju tempat pemrosesan akhir di Benowo, Surabaya. Langkah tersebut sekaligus dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat kota.

Selain itu, Program Kampung MOZAIK juga diarahkan untuk mendorong masyarakat mencegah pembuangan sampah ke Kali Tebu. Sungai yang seharusnya menjadi bagian dari ekosistem lingkungan tersebut diharapkan dapat terbebas dari pencemaran akibat sampah rumah tangga.

Melalui pendampingan dan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, masyarakat RW 08 diharapkan mampu membangun kawasan yang mandiri dalam pengelolaan sampah. Keterlibatan KSH sebagai kader lingkungan menjadi bagian penting dalam menggerakkan perubahan perilaku warga.

Program Kampung MOZAIK pada akhirnya tidak hanya mendorong masyarakat untuk memilah sampah, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab setiap keluarga. Dari rumah, kebiasaan tersebut diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus menjaga Kali Tebu tetap lestari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....