Sekolah Rakyat Kota Blitar Jadi Harapan Siswa Mengejar Mimpi

  • 15 Agt 2026 17:32 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Blitar - Bagi sebagian siswa, kembali mengenakan seragam sekolah bukan perkara sederhana. Ada perjuangan panjang di baliknya. Hal itu pula yang dirasakan sejumlah siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar yang mulai menjalani aktivitas pendidikan pada Sabtu (15/8/2026).

Sekolah Rakyat Kota Blitar resmi beroperasi dan menjadi tempat baru bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan. Hari pertama diisi dengan pembukaan serta masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Para siswa bersama wali murid hadir dalam kegiatan tersebut. Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, Wakil Wali Kota Blitar Elim Tyu Samba, dan sejumlah pejabat Pemkot Blitar juga turut hadir.

Tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, kegiatan hari pertama sekaligus menjadi proses awal bagi siswa untuk beradaptasi dengan sistem pendidikan dan kehidupan asrama.

Di balik dimulainya aktivitas sekolah tersebut, terdapat cerita berbeda dari masing-masing siswa.

Salah satunya Risma Ani Fatimah (16) warga Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Risma kini mendapat kesempatan melanjutkan sekolah ke jenjang SMA melalui Sekolah Rakyat.

Keputusan tersebut tidak lepas dari kondisi keluarganya. Risma kehilangan sang ayah sekitar dua tahun lalu. Kini, ia tinggal bersama ibu dan kakaknya.

Ibunya bekerja sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara kakaknya telah bekerja dan tidak meneruskan pendidikan.

Kondisi tersebut sempat menjadi tantangan bagi Risma untuk melanjutkan sekolah. Namun, kesempatan melalui Sekolah Rakyat membuatnya kembali memiliki ruang untuk mengejar pendidikan.

"Saya sekolah di Sekolah Rakyat karena faktor ekonomi. Ayah saya sudah meninggal dunia dan ibu saya bekerja sebagai petani," ujar Risma, Sabtu (15/8/2026).

Risma tidak ingin kondisi tersebut menghentikan langkahnya. Ia justru ingin memanfaatkan kesempatan yang diperolehnya untuk meraih cita-cita.

"Saya ingin menjadi guru. Semoga saya bisa mewujudkan cita-cita menjadi guru setelah belajar di Sekolah Rakyat," katanya.

Cerita berbeda disampaikan Naura Gendys Mahira (17), warga Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo. Naura harus berhenti sekolah selama satu tahun setelah lulus SMP karena kondisi ekonomi keluarga.

Selama tidak bersekolah, Naura membantu menjalani keseharian bersama keluarganya yang memiliki usaha laundry rumahan.

Kini, ia kembali mengenakan seragam dan akan menempuh pendidikan kelas 10 SMA di Sekolah Rakyat Kota Blitar.

Bagi Naura, kesempatan tersebut menjadi jalan untuk kembali melanjutkan pendidikan sekaligus mengejar cita-citanya. Ia bahkan memiliki keinginan untuk bekerja di Jepang.

"Saya masuk Sekolah Rakyat untuk mewujudkan cita-cita. Saya ingin bekerja ke Jepang," ungkapnya.

Naura merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Kesempatan bersekolah kembali diketahui keluarga setelah orang tuanya memperoleh informasi mengenai Sekolah Rakyat.

Tidak hanya Naura, salah satu adiknya juga tercatat sebagai siswa di Sekolah Rakyat. Keduanya memiliki selisih usia sekitar satu tahun.

"Adik saya juga sekolah di Sekolah Rakyat. Saya dan adik umur kami hanya selisih satu tahun. Sedangkan adik saya yang kecil masih kelas TK B," imbuhnya.

Kini, para siswa mulai menjalani rutinitas baru. Mereka harus membiasakan diri dengan kegiatan belajar sekaligus kehidupan bersama di asrama.

Bagi Risma dan Naura, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat untuk belajar. Sekolah ini menjadi kesempatan untuk kembali membuka jalan pendidikan yang sempat tertutup oleh keterbatasan ekonomi.

Dari ruang kelas dan asrama itulah, mereka kini mulai menata kembali masa depan dengan cita-cita masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....