BPBD Kota Batu Siaga Kemarau 2026, Karhutla Jadi Ancaman

  • 05 Jun 2026 11:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Batu - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang 2026. Ancaman terbesar yang menjadi perhatian adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan Gunung Arjuno-Welirang yang selama ini memiliki riwayat kejadian kebakaran cukup tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho, mengatakan bahwa Kota Batu sebenarnya telah memasuki musim kemarau sejak Mei 2026 berdasarkan informasi dari BMKG dan Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur.

“Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya, dengan curah hujan yang lebih rendah, suhu udara lebih tinggi, dan kelembapan yang rendah. Kondisi ini meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya dalam dialog interaktif Malang Menyapa di PRO 1 RRI Malang, Jumat (5/6/2026).

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kota Batu telah menyusun sejumlah dokumen strategis, mulai dari kajian risiko bencana, rencana kontinjensi karhutla, hingga rencana operasi yang akan digunakan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, BPBD juga tengah memberlakukan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan yang berlaku sejak 1 Mei 2026 selama 184 hari ke depan. Status tersebut dapat diperpanjang apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Menurut Gatot, kawasan yang paling rawan mengalami kebakaran berada di sekitar Gunung Arjuno-Welirang. Wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang, Pasuruan, dan Mojokerto sehingga berpotensi mempercepat penyebaran api apabila kebakaran terjadi.

“Potensi tertinggi memang ada di Arjuno-Welirang karena wilayah hutannya luas dan berbatasan dengan beberapa daerah. Selain itu, kawasan Panderman dan Oro-Oro Ombo juga tetap menjadi perhatian,” jelasnya.

Data historis BPBD menunjukkan kebakaran hutan dan lahan pernah terjadi pada 2019 dan 2023. Dari hasil evaluasi, sebagian besar kejadian dipicu oleh aktivitas manusia.

Kelalaian yang sering ditemukan antara lain pembukaan lahan dengan cara membakar, api unggun yang tidak dipadamkan secara sempurna, hingga aktivitas perburuan liar yang menggunakan api untuk mengusir satwa.

Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di kawasan hutan selama musim kemarau.

“Kami berharap masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Wisatawan juga harus memastikan api unggun benar-benar padam agar tidak meninggalkan bara yang bisa memicu kebakaran,” tegasnya.

Jika terjadi kebakaran berskala besar dan sulit dijangkau melalui pemadaman manual, BPBD akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, BNPB, Perhutani, Tahura, hingga daerah sekitar untuk mengerahkan bantuan helikopter water bombing seperti yang dilakukan saat kebakaran besar pada 2019 dan 2023.

BPBD memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD guna mengantisipasi potensi bencana yang mungkin terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....