Mitigasi Bencana: Kenali Ancaman, Adaptasi Lingkungan, dan Siapkan Tas Siaga
- 17 Jul 2026 06:58 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bencana alam memang tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, dampak yang ditimbulkan masih dapat ditekan melalui upaya mitigasi yang tepat dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Pemahaman terhadap potensi ancaman di lingkungan sekitar menjadi langkah awal yang sangat penting agar masyarakat mampu mengambil tindakan cepat dan tepat saat bencana terjadi.
Hal tersebut disampaikan Dosen Geografi Universitas Negeri Malang, Dr. Heni Masruroh, M.Sc., dalam dialog SPADA Tanggap Bencana di Pro 2 RRI Malang, Rabu (15/07/2026). Menurutnya, mitigasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen bencana karena berperan mengurangi risiko terhadap korban jiwa maupun kerugian materi.
"Ancaman bencana akan selalu ada karena Indonesia berada di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana. Yang bisa kita lakukan bukan menghilangkan ancamannya, melainkan mengelola risiko agar dampaknya tidak semakin besar. Di sinilah pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat," ujar Heni.
Ia menjelaskan, salah satu bentuk mitigasi yang paling mendasar adalah mengenali karakteristik wilayah tempat tinggal. Masyarakat perlu mengetahui apakah daerahnya termasuk kawasan rawan banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, kebakaran, maupun bencana hidrometeorologi lainnya.
Menurut Heni, pengetahuan mengenai potensi ancaman merupakan bentuk mitigasi nonstruktural yang sangat efektif. Semakin baik masyarakat memahami kondisi lingkungannya, semakin besar pula peluang untuk melakukan langkah antisipasi sebelum bencana terjadi.
"Masyarakat sebaiknya memahami peta kerawanan di wilayahnya. Dengan mengetahui jenis ancaman yang mungkin terjadi, mereka bisa menentukan jalur evakuasi, mengenali titik kumpul yang aman, serta memahami tindakan apa yang harus dilakukan ketika situasi darurat terjadi. Pengetahuan sederhana seperti ini sering kali menjadi penyelamat," jelasnya.
Selain memahami kondisi lingkungan, Heni juga mengingatkan pentingnya kesiapan setiap keluarga melalui penyediaan tas siaga bencana. Tas tersebut sebaiknya disiapkan sejak awal dan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau agar dapat segera dibawa ketika proses evakuasi harus dilakukan.
Isi tas siaga bencana antara lain obat-obatan, pakaian ganti, air minum, makanan siap saji, senter, baterai cadangan, alat komunikasi, perlengkapan kebersihan, serta dokumen-dokumen penting seperti kartu identitas, kartu keluarga, ijazah, sertifikat, dan dokumen berharga lainnya.
"Dokumen penting sebaiknya disimpan dalam satu tas khusus bersama perlengkapan darurat. Bencana sering kali datang tanpa banyak waktu untuk bersiap, sehingga masyarakat tidak perlu lagi mencari dokumen satu per satu ketika harus segera menyelamatkan diri," katanya.
Lebih lanjut, Heni menuturkan bahwa tidak semua masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana memiliki pilihan untuk berpindah tempat tinggal. Banyak di antaranya telah menetap secara turun-temurun karena faktor ekonomi, pekerjaan, maupun ikatan sosial dan budaya.
Karena itu, menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan menjadi strategi yang lebih realistis dalam mengurangi risiko bencana. Adaptasi tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, latihan evakuasi secara berkala, pembangunan rumah yang lebih aman sesuai karakteristik ancaman, hingga memperkuat budaya sadar bencana di tingkat keluarga maupun komunitas.
"Masyarakat tidak selalu harus pindah dari kawasan rawan. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan untuk hidup berdampingan dengan risiko melalui kesiapsiagaan, edukasi, dan latihan yang berkelanjutan. Ketika masyarakat memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana, dampaknya dapat ditekan secara signifikan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....