Kemarau Panjang 2026, Akademisi UM Dorong Warga Menabung Air Hujan
- 05 Jun 2026 11:20 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi sepanjang 2026 mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Kepala Pusat Lingkungan Mitigasi dan Kebencanaan Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Heni Masruroh, mengajak masyarakat mulai menerapkan strategi konservasi air melalui embung, sumur resapan, dan biopori.
Dalam dialog interaktif Malang Menyapa PRO 1 RRI Malang, Heni menjelaskan bahwa kemarau merupakan ancaman bencana yang tidak dapat dihindari. Karena itu, upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi risiko dampaknya sejak dini.
Menurutnya, masyarakat harus mulai membiasakan penggunaan air secara efektif sebelum kondisi kemarau benar-benar mencapai puncaknya.
"Ketika musim kemarau datang, bukan hanya curah hujan yang menurun. Dampaknya juga akan dirasakan pada debit sungai, mata air, hingga sumur warga yang semakin menyusut," ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Heni menjelaskan terdapat dua tahapan kekeringan yang perlu dipahami masyarakat. Pertama adalah kemarau meteorologis, yaitu periode ketika hujan hampir tidak terjadi. Setelah itu muncul kemarau hidrologis yang ditandai menurunnya ketersediaan air di sungai, sumber mata air, dan sumur masyarakat.
Karena itu, konservasi air perlu menjadi perhatian utama. Salah satu solusi yang dinilai efektif adalah membangun embung dan sumur resapan yang mampu menyimpan air hujan saat musim penghujan.
Ia mencontohkan hasil penelitian yang pernah dilakukan di Jawa Tengah. Di wilayah yang rawan kekeringan, warga memanfaatkan aliran air hujan dari atap rumah yang diarahkan ke sumur resapan melalui saluran pipa.
Air yang biasanya langsung terbuang dapat tersimpan di dalam tanah dan dimanfaatkan kembali saat kemarau panjang melanda.
Selain sumur resapan, Heni juga mendorong penerapan teknologi biopori di lingkungan permukiman. Teknologi sederhana tersebut memungkinkan air hujan lebih mudah meresap ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah tetap terjaga.
| Baca juga: Gerakan Belajar Zero Waste dari Rumah |
"Ketika musim hujan air melimpah, jangan semuanya dialirkan keluar. Sebisa mungkin ditabung ke dalam tanah agar saat kemarau masih tersedia cadangan air," katanya.
Ia menilai keberhasilan program konservasi air tidak bisa hanya mengandalkan masyarakat. Pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan perlu hadir sebagai pendamping, mulai dari penyusunan regulasi hingga edukasi teknis di lapangan.
Selain itu, masyarakat juga diminta lebih disiplin dalam menggunakan air. Kebiasaan boros saat musim hujan harus mulai diubah agar ketersediaan air tetap terjaga ketika memasuki musim kering.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam dialog tersebut, BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus mendatang dengan karakteristik yang lebih panjang dan cenderung kering dibandingkan kondisi normal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....