90 Persen Karhutla Dipicu Kelalaian Manusia di Kota Batu
- 05 Jun 2026 11:23 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Batu - Musim kemarau panjang yang diprediksi berlangsung sepanjang pertengahan hingga akhir 2026 tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga menuntut perubahan perilaku masyarakat dalam beraktivitas di kawasan pegunungan dan hutan.
BPBD Kota Batu menilai faktor manusia masih menjadi penyebab utama kebakaran yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Nugroho, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi kejadian karhutla pada 2019 dan 2023 menunjukkan sebagian besar kebakaran berawal dari kelalaian manusia.
“Kalau melihat kejadian yang pernah terjadi, penyebab utamanya adalah aktivitas manusia. Faktor alam seperti sambaran petir ada, tetapi persentasenya sangat kecil,” katanya, Jumat (5/6/2026).
Menurut Gatot, terdapat tiga aktivitas yang paling berisiko memicu kebakaran selama musim kemarau.
Pertama, pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar. Praktik ini dinilai sangat berbahaya karena api dapat dengan cepat merambat ke kawasan hutan ketika kondisi cuaca kering dan angin bertiup kencang.
Kedua, aktivitas wisata alam yang menggunakan api unggun tanpa pengawasan memadai. Bara api yang tampak kecil sering kali menjadi pemicu kebakaran besar ketika terbawa embusan angin.
Ketiga, aktivitas perburuan liar yang menggunakan api untuk mengeluarkan satwa dari habitatnya. Praktik tersebut pernah teridentifikasi sebagai salah satu pemicu kebakaran hutan di kawasan pegunungan.
“Api unggun harus dipastikan benar-benar padam. Jangan meninggalkan bara api sekecil apa pun karena itu bisa menjadi pemantik kebakaran yang lebih luas,” ujarnya.
Selain mengingatkan wisatawan dan petani, BPBD juga mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan langkah-langkah adaptasi menghadapi kemarau panjang. Salah satunya dengan menghemat penggunaan air serta menyiapkan cadangan air untuk kebutuhan pertanian.
Meski demikian, BPBD memastikan Kota Batu relatif aman dari ancaman kekeringan air bersih. Hingga saat ini, wilayah tersebut belum memiliki catatan historis kekeringan yang berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau definisi kekeringan menurut BNPB dan BPBD Provinsi adalah kekeringan air bersih. Secara historis Kota Batu belum pernah mengalami kondisi tersebut,” jelas Gatot.
Ia menambahkan, beberapa kejadian gangguan distribusi air yang pernah terjadi lebih banyak disebabkan faktor teknis, seperti kerusakan jaringan perpipaan, bukan karena sumber air yang mengering.
Untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana selama musim kemarau, BPBD Kota Batu terus memperkuat koordinasi dengan Perhutani, Tahura, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Masyarakat yang menemukan indikasi kebakaran atau kondisi darurat lainnya dapat melapor melalui layanan darurat BPBD Kota Batu di nomor 0812-1710-4099 atau layanan panggilan darurat 112.
“Yang paling penting adalah kesadaran bersama. Jika masyarakat ikut menjaga hutan dan menggunakan api secara bijak, potensi karhutla bisa ditekan seminimal mungkin,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....