Pekerjaan sekaligus Pengabdian di Liposos Jember

  • 17 Sep 2026 10:39 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Mengabdikan diri untuk menangani kelompok masyarakat rentan bukan pekerjaan yang selalu mudah. Dibutuhkan kesabaran, empati, sekaligus kesiapan menghadapi berbagai kondisi di lapangan.

Kepala UPTD Liposos Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember, Roni Efendi, S.STP., menyampaikan bahwa Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) Jember merupakan wadah penampungan sementara bagi kelompok rentan, seperti lanjut usia, orang dengan gangguan kejiwaan, serta masyarakat dengan keterbatasan fisik, mental, dan kebutuhan sehari-hari yang tidak memiliki pihak untuk merawat.

Roni yang menjalani pekerjaanya selama sekitar 13 tahun di Liposos Jember, telah memandang tugasnya sebagai bagian dari pengabdian.

“Jadi Liposos ini adalah Lingkungan Pondok Sosial yang mana ini adalah wadah tempat untuk menampung para lansia, para orang dengan gangguan kejiwaan, para kaum rentan yang memiliki keterbatasan fisik, mental, dan kebutuhan sehari-hari,” ujar Roni dalam program Obrolan Komunitas (OBRAS) Pro 1 Jember, Kamis, 6 Agustus 2026.

Menurutnya, penampungan tersebut bersifat sementara. Selanjutnya, pihak Liposos berupaya mencari solusi terbaik bagi setiap klien yang ditangani.

Pengabdian Roni di Liposos selama sekitar 13 tahun, ternyata tidak terlepas dari pengalaman pribadi yang pernah ia alami pada 2013.

Pada tahun tersebut, Roni mengaku pernah mengalami depresi ringan hingga harus menjalani perawatan dan tinggal selama sekitar empat bulan di sebuah rumah singgah atau panti asuhan. Selama berada di sana, ia juga membimbing anak-anak tingkat SD dan SMP. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam cara pandangnya ketika setelah pulih ia ditempatkan di Liposos.

“Dan ini bukan sebuah kebetulan, tapi qadarullah mungkin pada saat itu Maha Pencipta, Allah ini menguji, ngetes. Bagaimana ketika kamu berada di UPTD Liposos, apakah kamu akan dengan mudahnya menerima ataupun memperlakukan mereka kaum rentan, seperti itu. Jadi saya diuji, kembali diuji,” tuturnya.

Menurut Roni, pekerjaan di Liposos memiliki tantangan tersendiri. Petugas tidak hanya menangani lansia yang membutuhkan perawatan penuh, tetapi juga orang dengan gangguan kejiwaan dan kelompok rentan dengan berbagai kondisi kesehatan.

Risiko tersebut menjadi tantangan karena sebagian petugas tidak memiliki latar belakang dasar keperawatan. Meski demikian, Roni menyebut para petugas rutin melakukan kontrol kesehatan.

“Ya alhamdulillah bertahan sampai dengan hari ini. Dan di sana pun tidak mudah, karena yang kita hadapi bukan hanya lansia dengan kondisi yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, total care. Di sana juga ada orang dengan gangguan kejiwaan,” jelasnya.

Saat ini, Roni menyebut terdapat sekitar 50 klien yang ditangani dengan 14 petugas. Pelayanan dilakukan selama 24 jam melalui pembagian shift pagi dan malam.

“Jadi kapan pun dari masyarakat, dari wilayah yang mau mengirim pasien ke Liposos, kita selalu terbuka selama 24 jam,” katanya.

Bagi Roni, pelayanan tersebut tidak berhenti ketika jam kerja selesai. Permasalahan sosial, terutama yang berkaitan dengan lansia maupun ODGJ, dapat muncul kapan saja.

Ia menceritakan pernah bersama Kepala Dinas Sosial menangani seseorang yang mengalami depresi hingga sekitar pukul empat pagi di Pendopo. Kondisi tersebut membuat mereka harus tetap berada di lokasi hingga situasi dapat dikendalikan.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pelayanan sosial membutuhkan kesiapan di luar rutinitas pekerjaan. Bahkan, petugas yang sudah selesai menjalankan piket tetap dapat bergerak ketika mendapatkan laporan dan mampu dihubungi.

“Jadi meskipun mereka sudah lepas piket, tetapi ketika dihubungi diangkat, ya berangkat juga,” ujar Roni.

Bagi dirinya, perjalanan selama 13 tahun tersebut akhirnya tidak lagi dipandang sekadar sebagai pekerjaan administratif, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....