Mutiara Pagi RRI : Dirgahayu RI, Disyukuri atau Dikufuri?
- 27 Agt 2026 14:51 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia membalut setiap sudut wilayah Kabupaten Jember. Kibaran bendera merah putih, jajaran umbul-umbul, hingga lantunan lagu perjuangan menggema sepanjang bulan Agustus sebagai bentuk penghormatan atas sejarah panjang perjuangan bangsa. Namun, di tengah riuhnya selebrasi dan euforia tahunan tersebut, terselip sebuah perenungan mendalam mengenai hakikat kemerdekaan yang sebenarnya. Melalui program spiritual Mutiara Pagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember mengajak masyarakat untuk sejenak berhenti dan mengevaluasi posisi diri dalam memaknai kebebasan yang telah diraih.
Mengangkat tema reflektif : Dirgahayu RI, Disyukuri atau Dikufuri?, Ustadz Moh. Cholily, M.H.I. dari MUI Kabupaten Jember menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar pembebasan fisik dari belenggu penjajahan, melainkan sebuah amanah teologis yang sangat besar.
"Merujuk pada ajaran Al-Qur'an, bangsa yang benar-benar mensyukuri kemerdekaan akan menunjukkannya lewat pemanfaatan sumber daya dan kedaulatan demi kemaslahatan bersama, keadilan sosial, serta peningkatan ketaqwaan. Sebaliknya, indikator kufur nikmat tampak manakala kebebasan justru memicu keserakahan, pengabaian terhadap hak-hak sesama, serta lunturnya nilai-nilai moral dalam berbangsa dan bernegara. Terkait ungkapan rasa syukur, syukur secara keyakinan (i'tiqad atau syukur bil-qalbi), yakni kesadaran batin yang kuat bahwa segala nikmat, kebaikan, dan karunia yang diterima berasal sepenuhnya dari Allah SWT, bukan karena usaha, daya, atau kekuatan diri sendiri." ujarnya, 26 Agustus 2026

Ustadz Moh. Cholily juga memberikan kritik tajam terhadap fenomena sosial masyarakat yang kerap terjebak pada euforia simbolis belaka.
"Berbagai ajang perlombaan dan festival memang menjadi ekspresi kegembiraan yang wajar, namun garis batasnya menjadi sangat tipis ketika perayaan tersebut bergeser menjadi tindakan mubazir, pemborosan, hingga hura-hura yang mengabaikan nilai kepedulian. Islam memandang bahwa kegembiraan atas nikmat kemerdekaan seharusnya diimbangi dengan perenungan mendalam dan aksi nyata yang bermanfaat, bukan sekadar hiasan lahiriah tanpa makna substansial. " katanya tegas.
Melalui Mutiara Pagi RRI Jember, Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai sarana perbaikan diri (muhasabah). Merawat kemerdekaan dengan rasa syukur yang hakiki berarti menjaga keutuhan bangsa, memperjuangkan keadilan, serta memanfaatkannya sebagai ladang ibadah. Dengan mengubah pola pikir dari sekadar perayaan menuju pengabdian yang tulus, bangsa Indonesia diharapkan dapat terhindar dari ancaman kufur nikmat dan terus melangkah menuju peradaban yang berakhlak serta mendapat keridaan Tuhan Yang Maha Esa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....