PIONEER UNEJ Ajak Warga Jember Waspada ISPA dan Jaga Kesehatan Pernapasan
- 15 Sep 2026 10:00 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Belakangan ini perbincangan mengenai dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan pernapasan ramai menghiasi media sosial. Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia turut menjadi perhatian publik.
Peran strategis edukasi kesehatan ini dibahas dalam siaran Jaga Malam: NGUMPUL di Pro 2 RRI Jember pada Rabu, 9 September 2026 yang dipandu oleh host Irza Diharjo, dengan mengusung topik "Waspada ISPA: Kenali, Cegah, Sehat Bersama".
Diskusi tersebut menghadirkan dua anggota PIONEER Universitas Jember (UNEJ) sebagai narasumber. Mereka adalah Jannatun Firdausy dari Divisi Social Project dan Tyas Arist dari Divisi Human Resource.
Meskipun Kabupaten Jember tidak terdampak langsung oleh paparan abu vulkanik tersebut, kewaspadaan terhadap ISPA diimbau untuk tidak boleh kendur. Pasalnya, gangguan pernapasan ini tidak hanya dipicu oleh bencana alam, melainkan juga oleh faktor lingkungan sehari-hari.
"Abu vulkanik terdiri dari partikel amat halus berupa batuan, mineral, dan kaca yang bersifat abrasif atau kasar sehingga dapat mengiritasi jaringan pernapasan. Iritasi ini melemahkan pertahanan alami saluran napas, membuat tubuh lebih mudah terinfeksi virus atau bakteri. Jadi abu vulkanik mempermudah dan memperberat kondisi ISPA," kata Anggota Divisi Social Project PIONEER UNEJ, Jannatun Firdausy.
Walau terbebas dari abu vulkanik, masyarakat Jember tetap berhadapan dengan ancaman ISPA harian. Beberapa faktor risiko lokal seperti perubahan cuaca ekstrem, debu jalanan di area yang belum beraspal, polusi asap kendaraan, hingga asap pembakaran sampah dan asap rokok di dalam rumah tetap perlu diwaspadai.
Sebagian besar kasus ISPA sendiri disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri yang menyerang saluran pernapasan dari hidung hingga paru-paru selama rentang waktu hingga 14 hari. Jika dibiarkan tanpa penanganan atau terpapar polusi terus-menerus, batuk pilek biasa dapat berkembang menjadi kondisi berat seperti radang tenggorokan, bronkitis, hingga pneumonia.
"Beberapa kelompok masyarakat memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap ISPA, mulai dari anak-anak yang sistem imunnya belum sempurna, lansia, penderita asma atau penyakit paru kronis, ibu hamil, hingga pekerja luar ruangan seperti petani dan pengendara motor yang saban hari terpapar debu," ujar Anggota Divisi Human Resource PIONEER UNEJ, Tyas Arist.
Gejala umum ISPA biasanya ditandai dengan batuk, hidung tersumbat, demam ringan, sakit tenggorokan, dan lemas. Namun, masyarakat diminta untuk segera mengakses fasilitas kesehatan jika menemukan tanda bahaya seperti sesak napas, nyeri dada, demam tinggi persisten, bibir kebiruan, atau kondisi anak yang lemas dan tidak mau makan.
Langkah pencegahan efektif dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana, seperti rutin mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan udara ruangan, memenuhi gizi seimbang, beristirahat cukup, serta mengupayakan olahraga di dalam ruangan saat tingkat debu di luar rumah sedang tinggi. Selain itu, melengkapi imunisasi anak dan beristirahat di rumah saat sakit sangat krusial untuk memutus rantai penularan.
Mengenai penggunaan APD, penggunaan masker N95 atau masker medis yang menutup rapat hidung dan mulut sangat dianjurkan saat berada di area berdebu tinggi. Walaupun masker kain biasa kurang efektif menyaring partikel mikron, penggunaannya tetap jauh lebih baik dibandingkan tidak memakai pelindung sama sekali.
Pengawasan mandiri terhadap kesehatan diri dan keluarga menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas hidup masyarakat. Melalui kesadaran serta tindakan pencegahan yang konsisten, warga Jember diyakini mampu membentengi diri dari risiko ISPA dan mewujudkan lingkungan masyarakat yang lebih sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....