Suhu Jember Tembus 36,7 Derajat Celsius, Ini Penjelasan BMKG

  • 01 Okt 2026 22:00 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Suhu udara di Kabupaten Jember dalam beberapa hari terakhir mencapai lebih dari 36 derajat Celsius. Hal itu disampaikan Prakirawan BMKG Pos Jember, Hukama Nur Akmal.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk posisi semu matahari, musim kemarau, minimnya tutupan awan, serta masih aktifnya angin monsun Australia.

Akmal menjelaskan, peningkatan suhu pada akhir September hingga awal Oktober merupakan kondisi yang umum terjadi setiap tahun.

Pada periode tersebut, posisi matahari berada di selatan khatulistiwa sehingga durasi penyinaran matahari di wilayah Jember menjadi lebih panjang.

“Jember secara letak astronomis berada di wilayah selatan khatulistiwa. Sehingga waktu siang hari akan sedikit lebih lama daripada waktu malam harinya. Mungkin sekitar 5-7 menit lebih lama,” ujarnya, Kamis, 1 Oktober 2026.

Selain itu, kondisi kemarau membuat tutupan awan relatif minim. Akibatnya, radiasi matahari lebih banyak diterima langsung oleh permukaan bumi dan membuat suhu udara terasa lebih panas.

Akmal menyebut suhu maksimum yang tercatat di Jember dalam beberapa hari terakhir berada pada kisaran 34-36 derajat Celsius. Suhu tertinggi yang tercatat di Pos Jember mencapai 36,7 derajat Celsius.

“Beberapa hari terakhir, 35,3 derajat. Kemudian kemarin 34,6 derajat. Jadi di atas 34 hingga 36 derajat Celsius,” katanya.

Kondisi panas juga dipengaruhi angin timuran dari monsun Australia yang masih aktif. Angin tersebut membawa karakter udara yang relatif kering dan panas.

“Jadi, selain dengan kenaikan suhu, kadang juga dengan angin yang bertiup membawa hawa yang agak panas dan kering,” tambahnya.

Ia mengimbau masyarakat, terutama yang beraktivitas di luar ruangan, mengurangi durasi paparan langsung terhadap panas.

Warga juga disarankan menggunakan tabir surya dan mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan memperbanyak minum air putih.

Akmal juga mengatakan musim kemarau di Jember masih akan berlangsung hingga Oktober. Sementara masa peralihan musim atau pancaroba diprakirakan mulai terjadi pada November.

“Jadi, bagi masyarakat agar lebih meningkatkan kekebalan tubuhnya, menjaga kesehatan tubuh, agar tidak mudah terserang penyakit,” katanya.

Ia menyebut cuaca panas dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan, termasuk ketika kasus Influenza A sedang banyak ditemukan.

Ia mengimbau, masyarakat meningkatkan daya tahan tubuh dengan menjaga kesehatan dan mencukupi kebutuhan cairan selama cuaca panas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....