Berturut, Tiga Tahun BEM Fasilkom UNEJ Raih Pendanaan Program

  • 08 Sep 2026 01:26 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Bagi sebagian organisasi mahasiswa, satu kali lolos pendanaan program nasional mungkin sudah menjadi sebuah pencapaian. Namun, bagi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Jember (BEM FASILKOM UNEJ), keberhasilan itu justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Tahun 2026 menjadi tahun ketiga secara berturut-turut BEM FASILKOM UNEJ berhasil memperoleh pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Pengumuman hasil seleksi pendanaan PPK Ormawa 2026 pada 26 Mei lalu kembali membawa nama BEM FASILKOM UNEJ dalam daftar organisasi mahasiswa penerima pendanaan nasional. Tiga tahun berturut-turut tentu bukan sekadar angka.

Di baliknya ada cerita tentang mahasiswa yang berganti, kepengurusan yang silih berganti, sekaligus pengetahuan yang harus terus diwariskan agar sebuah program tidak berhenti ketika satu generasi berakhir.

Ketika pertama kali mengikuti seleksi PPK Ormawa, BEM FASILKOM UNEJ belum memiliki pengalaman sebelumnya. Tidak ada catatan keberhasilan yang bisa dijadikan pegangan.

Ketua Tim PPK Ormawa 2024, Nurul Hadits, mengingat bagaimana timnya harus mempelajari program tersebut dari awal.

“Tantangan terbesar adalah belum adanya tim dari FASILKOM yang pernah lolos pendanaan PPK Ormawa sebelumnya. Karena itu, kami harus belajar dari nol untuk memahami seperti apa proses dan kunci keberhasilan program ini.”ujar Nurul Senin (7/9/2026).

Belajar tidak berhenti ketika proposal dinyatakan lolos. Saat program berjalan, tim terus berdiskusi dengan tim PPK Ormawa dari perguruan tinggi lain maupun Task Force PPK Ormawa UNEJ. Pengalaman itu perlahan menjadi bekal yang kemudian ditinggalkan untuk generasi berikutnya.

Dari sinilah sebuah pola mulai terbentuk: pengalaman tidak berhenti pada satu kepengurusan, tetapi diwariskan. Ketua Tim PPK Ormawa 2025, Abdurrohman Qoim Haqqi, tidak lagi memulai dari halaman kosong. Pengalaman tim sebelumnya telah menjadi pijakan untuk mempersiapkan program dengan lebih matang.

“Pengalaman tersebut menjadi referensi yang sangat berharga sehingga tim 2025 dapat mempersiapkan program dengan lebih matang dan mengantisipasi berbagai kendala sejak awal,” jelasnya.

Ketua Pelaksana PPK Ormawa 2024 yang kemudian menjabat sebagai Ketua BEM 2025 turut mendampingi proses regenerasi. Pengetahuan tentang penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan hingga evaluasi dapat diteruskan kepada tim berikutnya.

Tidak hanya meneruskan, tim 2025 juga melakukan pembenahan. Struktur divisi ditata kembali. Pembagian tugas diperjelas. Administrasi dan evaluasi didokumentasikan lebih rinci.

Sedikit demi sedikit, pengalaman personal berubah menjadi pengetahuan organisasi. Ketua Tim PPK Ormawa 2026, Dimas Kurniawan Hariyanto, merasakan bahwa keberhasilan untuk ketiga kalinya membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang lebih besar.

“Lolos pendanaan bukan garis finish, justru start. Artinya ekspektasi kampus, desa, dan tim berikutnya makin tinggi. Tapi di atas semua itu, yang paling kerasa ya bersyukur,” ungkapnya.

Bagi Dimas dan timnya, mereka tidak perlu kembali mengulang seluruh proses dari awal. Dokumen, pengalaman, evaluasi hingga catatan berbagai kendala dari tim sebelumnya telah menjadi fondasi.

“Bisa dibilang fondasi kami berdiri di pundak tim sebelumnya. Jadi kami tidak mulai dari nol, tetapi tinggal mengembangkan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan Desa Rowokangkung tahun ini,” katanya.

Kalimat itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar keberhasilan memperoleh pendanaan.Ada pengetahuan yang diwariskan. Ada kesalahan yang tidak perlu diulang. Ada pengalaman yang menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Bagi BEM FASILKOM UNEJ, keberlanjutan tidak hanya dibangun melalui program, tetapi juga melalui budaya organisasi. Proposal, revisi, notulensi rapat, evaluasi hingga berbagai kendala yang pernah dihadapi didokumentasikan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Budaya evaluasi dan berbagi pengalaman inilah yang membuat setiap kepengurusan tidak benar-benar berdiri sendiri. Mereka merupakan bagian dari rangkaian perjalanan yang sama.

Nurul Hadits, yang menjadi bagian dari awal perjalanan tersebut, melihat keberlanjutan ini sebagai kebanggaan tersendiri.

“Apa yang dimulai pada tahun 2024 dan 2025 ternyata tidak berhenti sebagai pencapaian dua angkatan saja, tetapi mampu menjadi estafet yang terus berlanjut,” tuturnya.

Tiga tahun berlalu. Nama ketua tim boleh berganti. Anggota boleh datang dan pergi. Kepengurusan boleh berganti wajah.

Namun, satu hal tetap dipertahankan: pengetahuan untuk mengabdi tidak boleh ikut hilang ketika sebuah generasi selesai menjalankan tugasnya.

PPK Ormawa sendiri merupakan program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong organisasi kemahasiswaan menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang inovatif, berkelanjutan, dan berdampak.

Bagi BEM FASILKOM UNEJ, program tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang memenangkan seleksi atau memperoleh pendanaan. Ada masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan. Ada proses belajar yang membentuk mahasiswa. Dan ada tanggung jawab untuk memastikan program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat.

Ke depan, BEM FASILKOM UNEJ berharap PPK Ormawa tetap menjadi ruang belajar sekaligus wadah pengabdian kepada masyarakat.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi mahasiswa bukan hanya tentang seberapa sering mereka berhasil lolos pendanaan.

Lebih dari itu, keberhasilan terlihat ketika satu generasi mampu meninggalkan pengetahuan bagi generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih baik. Dan di BEM FASILKOM UNEJ, perjalanan tiga tahun itu menjadi bukti bahwa pengabdian bisa diwariskan—bukan sebagai sebuah prestasi yang selesai dirayakan, tetapi sebagai estafet yang terus dijalankan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....