Konservasi Tanah dan Air Jadi Upaya Kendalikan Erosi dan Sedimentasi di Jember

  • 31 Agt 2026 09:27 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Konservasi tanah dan air menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga produktivitas lahan sekaligus mengendalikan erosi, sedimentasi, dan risiko banjir. Upaya tersebut dilakukan dengan menjaga kondisi tanah agar tidak mengalami degradasi serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air.

Mathapi, S.P. selaku Penyuluh Kehutanan Ahli Muda Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Jember, menjelaskan bahwa konservasi tanah dan air merupakan upaya untuk mengelola sekaligus melindungi tanah agar tidak mengalami degradasi akibat terkikis. Menurutnya, konservasi juga menjadi salah satu upaya pengendalian terhadap terjadinya erosi sehingga fungsi lahan tetap optimal.

Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama CDK Wilayah Jember, Deska Ari Kurniyanti, S.Hut. menambahkan bahwa konservasi tanah dan air bertujuan mencegah degradasi dan erosi sekaligus mempertahankan produktivitas lahan. Upaya tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan resapan air, menjaga fungsi tanah dalam mendukung kehidupan masyarakat, meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Konservasi tanah dan air itu betul tadi apa yang dijelaskan oleh Pak Hapi, itu adalah suatu upaya ya yang tujuannya untuk mencegah terjadinya degradasi, erosi, maupun menjaga produktivitas lahan,” ujar Deska dalam program Indonesia Cerdas Pro 1 Jember, Rabu, 15 April 2026.

Menurut Deska, manfaat konservasi dapat dirasakan terutama dalam menjaga lapisan permukaan tanah agar tidak mudah mengalami degradasi. Kondisi tanah yang tetap terjaga akan mendukung kegiatan penanaman sehingga produktivitas lahan dan hasil panen dapat lebih optimal.

Mathapi menambahkan bahwa salah satu manfaat utama konservasi adalah mempertahankan kesuburan tanah. Tanah yang subur akan mendukung berbagai aktivitas, termasuk pertanian dan penanaman. Selain itu, konservasi juga dapat membantu mengurangi erosi dan banjir dengan memperlambat laju air hujan yang mencapai permukaan tanah.

Prinsip konservasi, menurut Deska, antara lain meningkatkan resapan air ke dalam tanah, memperlambat aliran permukaan, menjaga tanah dari pukulan air hujan, serta menahan material tanah agar tidak terbawa terlalu jauh.

Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan vegetatif maupun bangunan konservasi. Pendekatan vegetatif dilakukan melalui penanaman tanaman. Ketika tanaman tumbuh, bagian tanaman seperti daun yang mengalami pelapukan dapat membantu mengembalikan unsur organik ke tanah.

Sementara itu, pendekatan bangunan dilakukan melalui sejumlah bangunan teknik konservasi tanah dan air (BKTA). Mathapi menjelaskan, salah satu bentuknya adalah gully plug yang diterapkan pada aliran sungai kecil dengan lebar maksimal sekitar satu meter. Pada bagian aliran yang lebih besar dapat dibangun dam penahan, kemudian pada bagian yang lebih bawah terdapat dam pengendali dan embung sebagai penampung air.

“Yang jelas, pelaksanaan ini tidak lepas dari peran serta masyarakat. Itu yang penting. Harus digarisbawahi. Peran serta masyarakat,” tegas Mathapi dalam program siaran yang sama.

Menurutnya, keberadaan bangunan konservasi tidak hanya bergantung pada pembangunan awal. Masyarakat memiliki peran dalam menjaga dan merawat bangunan agar tetap berfungsi. Material sedimentasi yang tertahan pada bangunan tertentu juga perlu dikelola agar kapasitas dan fungsi bangunan tetap terjaga.

Dalam konteks tersebut, BKTA merupakan bentuk bangunan teknis yang menjadi bagian dari upaya konservasi tanah dan air. Deska menjelaskan, jika KTA merupakan upaya konservasinya, maka BKTA merupakan bentuk bangunan teknik yang digunakan untuk mendukung upaya tersebut.

“Kalau KTA itu kan upayanya. Kalau BKTA itu bentuk bangunannya, bangunan tekniknya,” kata Deska.

Ia menjelaskan, kegiatan konservasi tersebut juga menjadi bagian dari rehabilitasi hutan dan lahan. Di wilayah Jember, salah satu kawasan yang menjadi perhatian berada di sekitar lereng Gunung Argopuro. Kondisi kawasan yang relatif curam membuat wilayah tersebut memiliki kerentanan terhadap erosi dan banjir.

CDK Wilayah Jember dalam beberapa tahun terakhir juga telah melaksanakan berbagai kegiatan konservasi, antara lain pembangunan dam penahan, gully plug, dan sumur resapan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi lahan dan mengendalikan aliran air serta sedimentasi.

Dengan demikian, konservasi tanah dan air tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan pemeliharaan dan keterlibatan masyarakat. Keberhasilan konservasi pada akhirnya diharapkan mampu menjaga produktivitas lahan, mengurangi risiko erosi dan banjir, serta mempertahankan manfaat lingkungan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....