Karapan Sapi Kembali Digelar, Ribuan Warga Meriahkan HUT ke-81 RI di Wringin
- 17 Agt 2026 18:48 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso– Pemerintah Kecamatan Wringin kembali menggelar pertunjukan budaya Karapan Sapi dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pada Senin, 17 Agustus 2026.
Tradisi Karapan Sapi yang telah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Wringin tersebut sempat vakum. Kini, tradisi itu kembali digelar dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Ribuan warga memadati Lapangan Kecamatan Wringin untuk menyaksikan langsung pertunjukan budaya yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari tradisi masyarakat menjelang musim tanam.
Kepala Desa Gubrih, Abdul Bari, mengatakan desanya mengikutsertakan lima pasang sapi dari komunitas lokal. Keikutsertaan tersebut merupakan bentuk semangat masyarakat untuk membangkitkan kembali gairah budaya daerah.
“Ini memang budaya turun-temurun, jadi kegiatan ini bertujuan untuk menggairahkan desa lain,” ujarnya.
Menurutnya, Karapan Sapi khas Wringin juga memiliki rangkaian budaya yang tidak terpisahkan, salah satunya iringan musik saronen dan tarian khusus saat sapi diarak menuju arena pertandingan.
Sementara itu, Camat Wringin, Misyono, mengatakan pihaknya berkomitmen menghidupkan kembali tradisi Karapan Sapi agar tetap lestari sebagai bagian dari khazanah budaya bangsa.
“Khususnya di Kecamatan Wringin ini, budaya Karapan Sapi adalah tradisi yang sangat menarik, utamanya dalam menghadapi musim tanam,” jelasnya.
Selain menjadi upaya pelestarian budaya, menurut Misyono, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Hal itu terlihat dari banyaknya pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM lokal yang berjualan di sekitar lokasi pertunjukan.
“Bagaimana pergerakan perekonomian, sampeyan bisa lihat hari ini banyak pelaku UMKM dan PKL berjualan,” katanya.
Dalam pertunjukan tersebut, sebanyak 13 komunitas Karapan Sapi dari Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih turut ambil bagian. Setiap peserta membawa sepasang sapi pedet jantan.
Sapi-sapi tersebut dihias dengan berbagai atribut berwarna-warni. Sepasang sapi kemudian dihubungkan menggunakan pangonong, yakni kayu melintang yang diletakkan di atas leher sapi untuk menyelaraskan gerakan keduanya.
Pangonong tersebut selanjutnya dihubungkan dengan kaleles, berupa kereta kayu kecil yang menjadi tempat joki berdiri untuk mengendalikan laju sapi.
Ketika pertandingan dimulai, iringan musik saronen menambah kemeriahan suasana. Para joki berusaha mengendalikan sekaligus menyelaraskan gerakan dua ekor sapi yang melaju kencang di lintasan sepanjang sekitar 80 meter.
Bagi masyarakat Wringin, kembalinya Karapan Sapi bukan sekadar pertunjukan dalam memeriahkan HUT ke-81 RI, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga tradisi leluhur sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....