Mahasiswa Polije Hadirkan Inovasi Greenhouse Dryer Untuk Petani Kopi

  • 16 Agt 2026 20:43 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember — Upaya meningkatkan kualitas dan daya saing komoditas kopi terus dilakukan di Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian (HMJ-TP) Politeknik Negeri Jember (Polije) menghadirkan inovasi Greenhouse Dryer sekaligus mendampingi petani dalam memperluas pemasaran produk melalui marketplace.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menjawab persoalan yang selama ini dihadapi petani, terutama pada tahap pascapanen. Ketergantungan terhadap pengeringan secara konvensional membuat proses pengeringan biji kopi membutuhkan waktu cukup lama dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Fasilitas Greenhouse Dryer yang dikembangkan mahasiswa memanfaatkan efek rumah kaca yang dipadukan dengan sistem blower. Teknologi tersebut memungkinkan panas matahari terperangkap secara optimal, sementara blower membantu menjaga sirkulasi udara hangat di dalam ruang pengering.

Dengan sistem tersebut, waktu pengeringan biji kopi yang sebelumnya mencapai lima hingga enam hari dapat dipangkas menjadi sekitar tiga hari. Sirkulasi udara yang lebih merata juga membantu menghasilkan proses pengeringan yang lebih konsisten dan higienis sehingga kualitas kopi tetap terjaga.

Perangkat Desa Sumbersalak, Haris Naufal, menilai inovasi tersebut memberikan manfaat langsung bagi petani.

“Inovasi pengering tenaga surya ini sangat bermanfaat bagi warga kami. Pengeringan manual biasanya memakan waktu lima sampai enam hari, tapi dengan alat ini tiga hari sudah kering” ujar Haris Minggu (16/8/2026)

Haris berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan oleh kelompok tani di Desa Sumbersalak.

Sementara itu, Ketua kelompok tani setempat, Moh. Alfarisin, menyambut positif percepatan proses pengeringan karena dinilai membantu menjaga kualitas hasil panen. Ia berharap efisiensi tersebut dapat dilanjutkan hingga tahap pengolahan dan pemasaran produk.

Peresmian fasilitas ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima fasilitas milik negara dan pemotongan pita secara simbolis. Kegiatan tersebut dihadiri perangkat Desa Sumbersalak, kelompok tani kopi, dosen pembimbing, tim mahasiswa, serta masyarakat setempat.

Tak berhenti pada teknologi pascapanen, PPK Ormawa HMJ-TP Polije juga mendorong penerapan ekonomi sirkular. Mahasiswa bersama pemuda desa atau Local Heroes dan kelompok tani mengolah limbah kulit kopi menjadi Pupuk Organik Cair (POC) melalui proses fermentasi.

Pengolahan tersebut diharapkan mampu mengurangi limbah perkebunan sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan demikian, limbah kopi tidak sekadar menjadi buangan, tetapi dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas pertanian masyarakat.

Penguatan dari sisi produksi kemudian dilanjutkan dengan membuka akses pasar yang lebih luas. Para petani dan pemuda desa mendapatkan pendampingan mengenai pemasaran digital, mulai dari strategi branding, desain kemasan, hingga pengelolaan toko pada berbagai platform marketplace.

Kolaborasi Polije dan masyarakat Desa Sumbersalak menunjukkan bahwa penguatan komoditas kopi tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi. Teknologi pascapanen, pemanfaatan limbah, penguatan kapasitas pemuda, serta pemasaran digital menjadi rangkaian penting untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.

Dari ruang pengering hingga etalase marketplace, inovasi mahasiswa Polije diharapkan mampu membawa kopi Sumbersalak naik kelas sekaligus memperkuat kemandirian dan perekonomian masyarakat desa.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....