Jember Masuki Puncak Musim Kemarau, Bediding Diperkirakan Makin Terasa
- 05 Agt 2026 01:32 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Kabupaten Jember telah memasuki puncak musim kemarau.
Kondisi tersebut ditandai dengan cuaca yang didominasi cerah hingga cerah berawan, serta perbedaan suhu yang cukup mencolok antara siang dan malam hari.
Prakirawan BMKG Pos Meteorologi Jember, Hukama Nur Akmal, mengatakan cuaca selama sepekan ke depan diperkirakan cerah dengan tingkat kelembapan udara yang semakin rendah.
“Saat ini wilayah Jember sudah memasuki puncak musim kemarau. Kondisi itu juga dipengaruhi fenomena El Nino, sehingga perlu menjadi perhatian masyarakat maupun pemerintah,” ujarnya saat on air Halo RRI, Senin (3/8/2026).
Hukama menjelaskan, suhu udara pada siang hari berkisar 34-35 derajat Celsius. Sementara pada malam hingga pagi hari suhu rata-rata turun menjadi 17-18 derajat Celsius.
“Bahkan di beberapa wilayah Jember dapat mencapai sekitar 15 derajat Celsius,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu munculnya fenomena bediding, yaitu penurunan suhu udara yang membuat malam hingga pagi hari terasa lebih dingin.
Fenomena itu terjadi karena langit yang cerah membuat panas di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer.
BMKG memperkirakan musim kemarau di Jawa Timur akan berlangsung hingga November. Namun, khusus wilayah selatan, termasuk sebagian wilayah Jember, masa kemarau diperkirakan berlangsung lebih lama.
“Sehingga peralihan menuju musim hujan atau pancaroba diperkirakan baru terjadi pada akhir November,” katanya.
Meski demikian, BMKG masih memprakirakan potensi hujan lokal dalam beberapa hari ke depan, terutama di wilayah Jember bagian utara dan tengah.
Hujan diperkirakan bersifat tidak merata akibat pembentukan awan di sekitar perairan utara Situbondo dan selatan Madura yang bergerak ke lereng Gunung Argopuro.
Sementara itu, untuk kondisi perairan selatan Jember, BMKG menyebut tinggi gelombang masih relatif aman bagi aktivitas nelayan.
“Namun, nelayan diminta tetap mewaspadai peningkatan kecepatan angin yang dapat mencapai sekitar 20 knot pada siang hingga sore hari,” katanya.
BMKG mengimbau nelayan untuk selalu memantau informasi cuaca sebelum melaut dan memanfaatkan waktu pagi hari untuk berlayar karena kondisi laut umumnya masih lebih tenang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....