Warga Bakungan Mengubah Sampah Jadi Harapan
- 08 Jun 2026 12:30 WIB
- Jember
RRI.CO.ID Banyuwangi- Setiap pagi, Nur Hayati tidak lagi terburu-buru membuang sampah dapurnya ke tempat penampungan. Ibu rumah tangga di Kelurahan Bakungan, Banyuwangi, itu kini terbiasa memisahkan sisa sayur, kulit buah, dan plastik bekas ke wadah berbeda sebelum petugas datang mengambilnya.
Kebiasaan kecil itu dulu terasa merepotkan. Namun perlahan berubah menjadi rutinitas yang ia pahami manfaatnya. Bukan hanya membuat lingkungan sekitar lebih bersih, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi warga.
“Sekarang kalau lihat sampah rasanya sayang kalau langsung dibuang campur begitu saja,” katanya sambil tersenyum.
Di Kelurahan Bakungan, sampah memang tidak lagi dipandang sekadar barang sisa. Di tangan warga dan pengelola Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Omah Olah Sampah, limbah rumah tangga berubah menjadi maggot, kompos, pupuk cair, hingga tabungan digital.
Setiap hari, sekitar 1,2 hingga 2 ton sampah rumah tangga masuk ke TPS 3R yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Joger Blambangan itu. Aktivitas dimulai sejak pagi. Sejumlah warga memilah sampah organik dan anorganik, sementara petugas lain mengolah sisa makanan menjadi pakan maggot.
Bau menyengat yang biasanya identik dengan tempat sampah nyaris tidak terasa. Yang tampak justru kesibukan warga bekerja bersama.
Plt. Lurah Bakungan, Prasetyo Suhartono, mengatakan perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Mengubah kebiasaan warga memilah sampah dari rumah membutuhkan waktu dan kesabaran.
“Awalnya memang sulit. Tapi kami terus edukasi pelan-pelan. Sekarang warga mulai sadar kalau sampah itu masih bisa dimanfaatkan,” ujar Prasetyo, Minggu, 7 Juni 2026.
Kesadaran itu tumbuh karena warga melihat langsung hasilnya. Sampah organik yang sebelumnya dibuang kini menjadi maggot untuk pakan ternak ayam, bebek, dan lele. Sebagian hasil budidaya bahkan dijual kembali kepada masyarakat.
Di sudut lain TPS 3R, anak-anak sekolah dasar tampak ikut membawa sampah plastik yang sudah dipilah dari rumah. Mereka menabung sampah melalui aplikasi bank sampah digital bernama Abank Sayang.
Setelah ditimbang, nilai sampah langsung masuk sebagai saldo tabungan. Bagi anak-anak, kegiatan itu menjadi pengalaman baru. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan ternyata juga bisa memberi manfaat.
“Anak-anak sekarang jadi semangat memilah sampah. Mereka senang kalau saldonya bertambah,” kata salah satu pengurus TPS 3R.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang mengunjungi lokasi tersebut mengaku terkesan dengan keterlibatan warga dalam mengelola sampah secara mandiri.
Menurut Ipuk, persoalan sampah tidak akan selesai hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kepedulian masyarakat agar sampah bisa ditangani sejak dari rumah.
“Kalau masyarakat terlibat aktif seperti di Bakungan, sampah bukan lagi problem serius. Bahkan bisa menjadi sumber manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga,” ujar Ipuk.
Bagi warga Bakungan, perubahan itu mungkin dimulai dari hal sederhana. Dari memilah sampah dapur. Dari membawa botol plastik ke bank sampah. Dari kebiasaan kecil yang perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap sampah.
Di tengah persoalan sampah yang terus menjadi tantangan di banyak daerah, Bakungan memberi cerita lain. Bahwa sesuatu yang selama ini dianggap kotor dan tidak berguna ternyata bisa menghadirkan harapan baru, selama ada kemauan untuk mengelolanya bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....