Akademisi Soroti Minimnya Teknologi Pengolahan Sampah di Jember

  • 19 Mei 2026 21:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Persoalan sampah di Kabupaten Jember dinilai sudah memasuki kondisi darurat akibat belum optimalnya sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember, Senki Desta Galuh, saat dialog di studio RRI Jember, pada Senin (18/5/2026).

“Kalau secara global, kondisi kita ini sudah darurat banget karena belum punya teknologi pengelolaan sampah dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan sampah di Jember selama ini masih bertumpu pada pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sementara teknologi pengolahan sampah skala rumah tangga maupun wilayah belum berkembang merata.

Ia menilai pengelolaan sampah seharusnya dilakukan berbasis wilayah hingga tingkat desa agar tidak seluruhnya bergantung pada TPA Pakusari.

“Kalau semua dibawa ke satu tempat, nanti akan kerepotan dalam transportasi dan pengangkutannya. Tapi kalau setiap wilayah punya sistem pengolahan sendiri, itu lebih bagus,” katanya.

Senki menjelaskan, sebagian sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi sebenarnya sudah mulai terkelola melalui pemulung maupun usaha pengumpulan sampah di tingkat desa.

Namun menurutnya, pengelolaan tersebut masih terbatas pada jenis sampah yang memiliki nilai jual, seperti botol plastik dan barang bekas tertentu.

Sementara itu, masih banyak jenis sampah lain yang belum tertangani secara optimal, terutama sampah anorganik seperti plastik saset dan kemasan metalized.

“Sebenarnya ada banyak teknologi-teknologi untuk mengelola sampah itu. Cuma di sini sifatnya masih secara industri, bukan secara rumah tangga. Jadinya teknologi-teknologi tertutup,” ujarnya.

Ia juga menilai teknologi pengolahan sampah rumah tangga sebenarnya sudah tersedia dengan biaya yang relatif terjangkau. Namun belum banyak diterapkan masyarakat.

Selain itu, Senki mengingatkan pentingnya pengaturan jadwal pengangkutan sampah organik agar tidak terlalu lama menumpuk dan menimbulkan bau akibat proses pembusukan.

“Saya tidak terlalu mendukung dengan pengangkutan seperti itu. Saya lebih mendukung kalau setiap daerah itu punya teknologi dan sadar akan pengolahan,” katanya.

Namun demikian, ia mendukung langkah Pemerintah Kabupaten Jember yang mulai mendorong pengelolaan sampah mandiri berbasis rumah tangga dan wilayah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....