Sarka Space Ubah Limbah Tutup Botol Plastik Menjadi Gagang Alat Pertanian
- 20 Agt 2026 17:31 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Limbah tutup botol plastik yang selama ini kerap menjadi sumber pencemaran lingkungan kini diolah menjadi produk bernilai guna oleh komunitas Sarka Space di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Melalui kolaborasi dengan tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Jember (Unej), Sarka Space mengembangkan gagang alat pertanian berbahan plastik daur ulang, mulai dari gagang sabit, cangkul hingga parang.
Gagang sabit berbahan plastik daur ulang tersebut saat ini mulai diuji coba langsung oleh petani untuk mengetahui tingkat ketahanan, bobot, serta kenyamanannya saat digunakan di lapangan.
Salah satu petani yang menjajal produk tersebut adalah Abdul Wahab dari Desa Suci. Ia menilai gagang plastik daur ulang memiliki potensi lebih awet dibandingkan gagang kayu, meski masih diperlukan sejumlah penyesuaian.
“Saya baru pertama kali lihat gagang celurit dari plastik seperti ini. Kalau dibandingkan dengan yang kayu, untuk sekarang saya masih pilih yang kayu karena yang ini masih terlalu panjang dan terasa lebih berat. Tapi kalau soal keawetan, menurut saya yang plastik ini lebih awet dan tidak mudah patah,” ujar Abdul Wahab.
Masukan dari petani tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim pengembang untuk menyempurnakan dimensi, bobot, dan kenyamanan produk sebelum nantinya diproduksi secara lebih luas.
Pendiri Sarka Space, Ahmad Quraisy, mengatakan inovasi tersebut berawal dari keresahan melihat banyaknya sampah plastik yang belum terkelola dengan baik dan berpotensi mencemari lingkungan.
“Berawal dari keresahan sekelompok individu yang melihat banyaknya sampah menumpuk dan mencemari lingkungan. Keresahan ini menyatukan kami dari latar belakang yang berbeda untuk memberikan perubahan, khususnya melalui pengelolaan sampah yang bijak dan bertanggung jawab,” kata Ahmad Quraisy, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya, sebelum mengembangkan alat pertanian, Sarka Space telah mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk, seperti papan plastik, tas, sampul buku hingga furnitur.
Pengembangan produk pertanian tersebut mendapat dukungan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk Penguatan Hilirisasi Limbah Plastik Berbasis Ekonomi Sirkular pada Komunitas Sarka Space untuk Mewujudkan Zero Waste Pendukung Pertanian Perdesaan.
Program tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2026.
Dosen Universitas Jember, Rizky Yanuarti, yang mengetuai tim pengabdian bersama Laily Mutmainnah dan Lenny Luthfiyah, mengatakan program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pengelolaan limbah yang fungsional dan berkelanjutan.
“Fokus kami bukan sekadar mengubah limbah plastik menjadi produk yang terlihat menarik, tetapi bagaimana limbah tersebut dapat diolah menjadi produk yang benar-benar digunakan dan memberi manfaat nyata,” ujar Rizky.
Melalui program tersebut, Sarka Space diperkuat dengan optimalisasi mesin pencacah, mesin CNC, teknologi press, penerapan sarana keselamatan dan kesehatan kerja (K3), standardisasi produksi hingga strategi pemasaran digital.
Sementara itu, pasokan bahan baku diperoleh melalui kemitraan dengan sejumlah bank sampah dan sekolah di Bondowoso. Limbah plastik dikumpulkan sejak dari sumbernya untuk kemudian diproses menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Inovasi tersebut dinilai menjadi salah satu upaya mengurangi persoalan sampah di Bondowoso. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025, persentase sampah tidak terkelola di Kabupaten Bondowoso tercatat mencapai 99,87 persen.
Kolaborasi Sarka Space dan Universitas Jember diharapkan mampu membangun rantai pengolahan sampah berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat serta mendukung kebutuhan sektor pertanian di kawasan Jember dan Bondowoso.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....