Kecamatan Wuluhan Jember Masih Tergenang
- 14 Feb 2026 10:13 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Banjir yang melanda 10 kecamatan di Kabupaten Jember sejak 12 Februari 2026, mulai surut. Namun hingga Sabtu (14/2/2026), genangan masih tersisa di Kecamatan Wuluhan, tepatnya di Desa Glundengan.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan, genangan masih bertahan di dua dusun di Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, yakni Dusun Sumberjo dan Dusun Tanjungsari. Ketinggian air dilaporkan masih mencapai sekitar satu paha orang dewasa.
BPBD bersama camat dan unsur muspika setempat masih memfokuskan penanganan di wilayah tersebut. Distribusi air bersih dan tandon telah dikirimkan. Begitu juga dengan dapur umum yang masih beroperasi.
“Kita pasok alat dan bahannya di rumah Pak Kasun Tanjungsari. Sementara yang lain sifatnya adalah patroli di kecamatan lain. Tim Jitupasna hari ini turun ke 10 kecamatan tadi,” kata Edy, kepada RRI.
Sementara di kecamatan lain, lanjut dia, warga telah melakukan aksi bersih-bersih secara mandiri maupun gotong royong di fasilitas umum. Seperti yang terjadi di Desa Curahmalang, Kecamatan Rambipuji.
Kecamatan tersebut sempat menjadi wilayah terdampak paling parah dengan sekitar 1.500 kepala keluarga. Kondisi saat ini berangsur normal dan distribusi air bersih dilakukan untuk kebutuhan warga.
“Seluruh besar pengungsi sudah mulai kembali ke rumahnya untuk melakukan bersih-bersih. Semoga cuaca hari ini lebih baik dan mendukung proses pemulihan pasca banjir,” kata dia.
Banjir berdampak pada 10 kecamatan, yakni Panti, Sukorambi, Rambipuji, Kalisat, Kaliwates, Bangsalsari, Ajung, Balung, Puger, dan Wuluhan. Total sebanyak 7.349 kepala keluarga terdampak di 23 desa.
Dari sisi infrastruktur, BPBD mencatat tiga jembatan ambruk, masing-masing di wilayah Panti dan Sukorambi. Selain itu, sekitar lima sekolah swasta terendam dan 11 rumah dilaporkan rusak.
“Kemungkinan ini masih terus bertambah. Pendataan masih terus dilakukan oleh tim Jitupasna di lapangan,” tambahnya.
Untuk layanan kesehatan, puskesmas di masing-masing kecamatan telah melakukan pemantauan dan pemeriksaan warga. Sejumlah warga dilaporkan memeriksakan kondisi kesehatan dan meminta vitamin pascabanjir.
Edy mengatakan, banjir kali ini merupakan rangkaian cuaca ekstrem yang terjadi sejak awal Februari. Berdasarkan rilis BMKG, curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi diperkirakan masih berlangsung hingga 20 Februari.
Ia menjelaskan, banjir bandang pertama terjadi pada 2 Februari di wilayah Panti, disusul kejadian serupa pada 6 Februari di Panti dan sebagian Rambipuji.
Puncaknya pada 12 Februari, banjir berdampak lebih luas hingga 10 kecamatan dan 23 desa, dipicu hujan deras dari siang hingga tengah malam yang menyebabkan limpasan air dari hulu ke hilir.
“Air dari sejumlah daerah aliran sungai meluap hampir bersamaan, sehingga banyak wilayah terdampak,” ujarnya.
BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan susulan. Warga yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai diminta segera mengungsi ke tempat aman apabila debit air meningkat.
“Kondisi cuaca masih berpotensi hujan sedang hingga lebat dan angin kencang. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas,” kata Edy.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....