Hipertensi Tak Lagi Identik dengan Lansia, Anak Muda Diminta Waspada
- 31 Jul 2026 01:51 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Hipertensi atau tekanan darah tinggi kini tidak lagi identik dengan penyakit yang hanya menyerang kelompok lanjut usia. Perubahan gaya hidup, pola makan yang kurang sehat, hingga tingginya tingkat stres membuat semakin banyak anak muda berisiko mengalami hipertensi. Sayangnya, penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam.
Wahyu Priyo Utomo dari Pusat Informasi Obat Universitas Jember (PIONEER), menjelaskan bahwa hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas normal, yakni lebih dari 140 mmHg untuk tekanan sistolik dan lebih dari 90 mmHg untuk tekanan diastolik. Ia menjelaskan, hipertensi disebut sebagai silent killer karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas, padahal dapat merusak berbagai organ vital apabila tidak terdeteksi dan tidak dikendalikan.
"Sering kali orang merasa sehat-sehat saja, padahal tekanan darahnya sudah tinggi. Kalau tidak terkontrol, kondisi ini bisa membahayakan organ-organ tubuh bahkan berujung pada kematian," ujar Wahyu dalam program Jaga Malam Pro 2 Jember, Rabu (27/08/2025).
Sementara itu, Mersya Divarenza yang juga bagian PIONEER, menegaskan bahwa anggapan hipertensi hanya dialami oleh orang tua merupakan sebuah mitos. Menurutnya, saat ini kasus hipertensi justru semakin banyak ditemukan pada kelompok usia 18 hingga 30 tahun akibat perubahan pola hidup.
Ia menyebutkan sejumlah kebiasaan yang meningkatkan risiko hipertensi pada anak muda, seperti sering mengonsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, kurang aktivitas fisik, begadang, hingga stres karena pekerjaan maupun perkuliahan.
"Kalau ada yang bilang hipertensi cuma penyakit orang tua, itu salah besar. Anak muda sekarang juga masuk kelompok yang rentan," jelas Mersya, Rabu (27/08/2025).
Selain faktor gaya hidup, Wahyu menambahkan bahwa kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, tingginya asupan garam dari makanan instan, serta minimnya aktivitas fisik turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko hipertensi di usia muda. Meski sering tidak bergejala, Mercia mengingatkan terdapat beberapa tanda yang patut diwaspadai, seperti sakit kepala, mudah lelah, jantung berdebar, hingga pandangan kabur. Gejala tersebut kerap dianggap sebagai akibat kurang tidur atau kelelahan, padahal bisa menjadi sinyal adanya tekanan darah tinggi.
"Kalau gejala itu muncul berulang, jangan langsung diabaikan. Sebaiknya segera cek tekanan darah agar bisa diketahui lebih dini dan mencegah komplikasi," ujarnya.
Menurut Wahyu, hipertensi yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti stroke, gagal jantung, hingga gagal ginjal. Risiko tersebut tentu dapat menurunkan kualitas hidup, terutama bagi usia produktif.
Selain gaya hidup, faktor genetik juga memiliki peran penting. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa sehingga perlu lebih disiplin menjaga pola hidup sehat.
Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga menyoroti hubungan antara stres dan hipertensi. Mersya menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol yang berpengaruh terhadap naiknya tekanan darah. Oleh karena itu, mengelola stres melalui olahraga, menjalankan hobi, meditasi, maupun berbincang dengan orang terdekat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan hipertensi.
Perkembangan teknologi juga dinilai dapat membantu masyarakat memantau kondisi kesehatannya. Wahyu menjelaskan bahwa saat ini berbagai perangkat smartwatch telah dilengkapi fitur pemantauan detak jantung, bahkan beberapa di antaranya mampu mengukur tekanan darah. Selain itu, aplikasi kesehatan dan layanan telemedicine dapat dimanfaatkan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis, memperoleh resep elektronik, hingga mengingatkan jadwal konsumsi obat bagi penderita hipertensi.
Untuk mencegah hipertensi, Mersya mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat secara konsisten, seperti mengurangi konsumsi garam, memperbanyak sayur dan buah yang kaya serat serta kalium, rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari, tidur yang cukup, dan mengelola stres dengan baik.
Wahyu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis yang diselenggarakan pemerintah saat hari ulang tahun. Menurutnya, layanan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mendeteksi berbagai penyakit, termasuk hipertensi, sejak dini hanya dengan datang ke puskesmas membawa KTP. Sementara itu, Mercia mengajak generasi muda untuk mulai menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari keseharian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....