Gym dan Home Workout Sama Efektif, Konsistensi yang Jadi Kunci

  • 31 Jul 2026 07:56 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Tren gaya hidup sehat yang semakin berkembang membuat olahraga menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda. Di tengah menjamurnya pusat kebugaran, efektivitas berolahraga di gym dibandingkan dengan home workout atau latihan di rumah, kerap menjadi perbincangan.

Dalam program Jaga Malam Pro 2 Jember edisi 19 September 2025, dr. Naila Zanuba, alumni Center for Indonesian Medical Students' Activities (CIMSA) Universitas Jember, menjelaskan bahwa baik gym maupun home workout sama-sama dapat memberikan manfaat selama dilakukan secara konsisten dan disesuaikan dengan tujuan masing-masing individu.

Menurut dr. Naila, perbedaan utama antara berolahraga di gym dan di rumah terletak pada fasilitas, suasana, serta dukungan yang tersedia. Di gym, seseorang dapat memanfaatkan berbagai alat latihan, memperoleh pendampingan dari personal trainer, serta berlatih bersama orang-orang yang memiliki motivasi serupa. Sementara itu, latihan di rumah cenderung memiliki keterbatasan alat sehingga jenis latihan yang dapat dilakukan juga lebih terbatas.

"Kalau berbicara tentang efektivitas, keduanya sama-sama efektif apabila dilakukan secara konsisten. Tetapi kalau berbicara tentang progres latihan, gym memiliki keunggulan karena alat, fasilitas, dan pendampingannya lebih lengkap," ujar dr. Naila, Jumat (19/09/2026).

Ia menegaskan bahwa efektivitas olahraga tidak ditentukan oleh tempatnya, melainkan oleh kemampuan seseorang mencapai tujuan (goals) yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, langkah pertama sebelum memulai olahraga adalah menentukan target yang ingin dicapai, apakah sekadar menjaga kebugaran, menurunkan berat badan, membentuk massa otot, atau meningkatkan kekuatan tubuh.

Untuk membantu menetapkan target tersebut, dr. Naila menyarankan penggunaan metode SMART, yakni tujuan yang bersifat spesifik (Specific), terukur (Measurable), dapat dicapai (Achievable), relevan dengan kondisi diri (Relevant), dan memiliki batas waktu (Time-bound).

Selain menentukan tujuan, konsistensi menjadi faktor penting agar olahraga tidak berhenti di tengah jalan. Menurutnya, rasa bosan merupakan tantangan yang hampir dialami semua orang, baik saat berolahraga di rumah maupun di gym.

Ia menyarankan agar seseorang mencari penyebab munculnya rasa bosan, kemudian mengatasinya dengan cara sederhana, seperti mengganti variasi latihan, mengajak teman berolahraga, menggunakan musik favorit, hingga membeli perlengkapan olahraga baru agar motivasi tetap terjaga.

"Kalau bosan, cari dulu penyebabnya. Kalau karena suasana, ubah suasananya. Kalau karena tidak ada teman, ajak teman. Yang penting jadikan olahraga sebagai kebiasaan, bukan sekadar resolusi awal tahun," jelasnya.

Khusus bagi masyarakat yang memilih berolahraga di rumah, dr. Naila membagikan pola latihan sederhana dengan konsep 3-3-3, yakni tiga hari latihan kekuatan (strength training), tiga hari latihan kardio, dan tiga hari pemulihan atau aktivitas ringan seperti yoga maupun pilates. Pola tersebut dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan aktivitas fisik sekaligus memberi waktu tubuh untuk beristirahat.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap bentuk olahraga tetap memiliki risiko cedera apabila dilakukan tanpa teknik yang benar. Di gym, risiko cedera memang bisa lebih besar karena penggunaan beban yang lebih berat, namun umumnya dapat diminimalkan karena tersedia alat yang sesuai serta pendampingan dari personal trainer.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Naila juga meluruskan anggapan bahwa gym hanya diperuntukkan bagi orang bertubuh kekar atau atlet. Menurutnya, pusat kebugaran saat ini terbuka untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak, perempuan, lansia, hingga individu dengan kondisi medis tertentu, selama latihan dilakukan sesuai anjuran dokter dan kemampuan masing-masing.

Ia menambahkan bahwa olahraga beban justru memberikan manfaat besar bagi perempuan karena membantu meningkatkan massa otot, menjaga kepadatan tulang, serta menurunkan risiko osteoporosis setelah memasuki masa menopause.

Bagi masyarakat yang masih ragu memulai olahraga di gym, dr. Naila menyarankan untuk membangun motivasi melalui hal-hal sederhana, seperti mengikuti konten kebugaran di media sosial, berolahraga bersama teman, atau memilih tempat latihan yang terasa nyaman. Menurutnya, rasa malu tidak perlu menjadi penghalang karena setiap orang di gym pada dasarnya sama-sama datang untuk memperbaiki diri.

Mengacu pada rekomendasi World Health Organization (WHO), dr. Naila mengatakan bahwa orang dewasa dianjurkan berolahraga sekitar 3 hingga 5 kali dalam seminggu dengan durasi 30 sampai 60 menit setiap sesi untuk menjaga kebugaran tubuh.

Ia mengingatkan bahwa tidak ada pilihan yang paling benar antara gym maupun home workout. Yang terpenting adalah menemukan metode latihan yang sesuai dengan kebutuhan dan mampu dijalankan secara berkelanjutan.

"Baik gym maupun home workout punya kelebihan masing-masing. Selama dilakukan dengan disiplin dan konsisten, keduanya sama-sama bisa membantu mencapai tujuan kesehatan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....