Keputihan Abnormal Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius
- 30 Jun 2026 18:12 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Keputihan merupakan kondisi yang umum dialami perempuan sepanjang siklus kehidupannya. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua keputihan tergolong normal. Keputihan yang disertai gejala tertentu dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan reproduksi yang memerlukan penanganan medis. Hal tersebut disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. M. Nofa Cholili, Sp.OG, dalam program Indonesia Sehat Pro 1 RRI Jember yang mengangkat tema “Keputihan pada Wanita, Gak Bahaya Tah?”, Jumat 26 Juni 2026.
Dalam dialog yang dipandu penyiar Sandi Wira, dr. Cholili menjelaskan bahwa keputihan atau fluor albus merupakan keluarnya cairan dari vagina yang secara fisiologis dapat terjadi pada setiap perempuan.
“Keputihan normal biasanya muncul menjelang menstruasi, saat masa subur, maupun ketika hamil. Cairannya berwarna putih bening atau putih susu, tidak berbau, tidak menimbulkan gatal, serta tidak menyebabkan iritasi,” jelasnya.
Menurut dr. Cholili, masyarakat perlu mulai waspada apabila keputihan disertai keluhan lain seperti rasa gatal, bau tidak sedap, warna kehijauan, tekstur kental, hingga muncul bercak darah.
“Kondisi tersebut sudah mengarah pada keputihan abnormal yang umumnya disebabkan oleh infeksi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah mikroorganisme dapat menjadi penyebab utama keputihan
abnormal, di antaranya infeksi jamur Candida, Bacterial Vaginosis, maupun infeksi parasit Trichomonas.
Selain faktor infeksi, kondisi tertentu juga dapat meningkatkan risiko munculnya keputihan tidak normal. Stres berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh, sementara obesitas menyebabkan area kewanitaan menjadi lebih lembap sehingga memudahkan pertumbuhan jamur dan bakteri.
Pada perempuan yang telah memasuki masa menopause, keputihan juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Dr. Cholili menegaskan bahwa perempuan pasca-menopause umumnya tidak lagi mengalami keputihan dalam jumlah banyak.
“Kalau setelah menopause masih muncul keputihan berlebihan, berbau, apalagi disertai nyeri, itu harus segera diperiksakan karena bisa menjadi tanda adanya masalah serius,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Cholili mengingatkan bahwa keputihan abnormal yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang. Pada perempuan usia reproduktif, infeksi dapat menjalar ke rahim hingga saluran tuba dan menyebabkan radang panggul yang berujung pada gangguan kesuburan.
Sementara pada perempuan usia lanjut, keputihan yang berbau menyengat dan berlangsung lama dapat menjadi salah satu tanda awal kanker serviks.
“Sering kali pasien baru datang ketika kanker sudah terdeteksi, padahal tanda-tandanya berupa keputihan abnormal sudah muncul bertahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Cholili juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengobati keputihan berdasarkan informasi dari media sosial.
Menurutnya, penggunaan antibiotik tanpa resep dokter maupun pemakaian sabun pembersih kewanitaan secara berlebihan justru dapat merusak keseimbangan flora normal di area vagina.
“Bakteri baik di vagina memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami. Kalau dibersihkan secara berlebihan dengan bahan kimia keras, justru keseimbangannya terganggu,” jelasnya.
Untuk menjaga kesehatan organ reproduksi, perempuan dianjurkan membasuh area kewanitaan menggunakan air bersih dari arah depan ke belakang, mengeringkan dengan lembut menggunakan tisu, serta menghindari penggunaan pakaian dalam yang terlalu ketat atau tidak menyerap keringat.
Dr. Cholili juga mendorong perempuan yang sudah menikah atau berusia di atas 35 tahun untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear secara berkala sebagai langkah deteksi dini kanker serviks.
“Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang sebenarnya dapat dicegah apabila terdeteksi sejak awal,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya pemeriksaan dan pengobatan secara bersamaan bagi pasangan suami istri apabila ditemukan infeksi penyebab keputihan.
Jika hanya satu pihak yang menjalani pengobatan, risiko penularan ulang akan tetap terjadi dan menyebabkan infeksi terus berulang.
Menutup dialog, dr. Cholili mengajak masyarakat untuk tidak merasa malu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan keputihan yang tidak normal.
“Jangan langsung membeli obat sendiri. Periksakan terlebih dahulu agar diketahui penyebab pastinya dan mendapat penanganan yang tepat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....