Gaya Hidup Sehat dan Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kanker Payudara
- 30 Jul 2026 06:50 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan di dunia. Namun, penyakit ini bukan hanya dapat menyerang perempuan, melainkan juga laki-laki meski dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Kabar baiknya, peluang kesembuhan kanker payudara dapat mencapai sekitar 90 persen apabila berhasil dideteksi dan ditangani sejak stadium awal.
Perwakilan Standing Committee on Sexual and Reproductive Health and Rights including HIV and AIDS (SCORA) CIMSA Universitas Jember, Medisya Vega mengajak masyarakat untuk lebih mengenali kanker payudara, memahami faktor risikonya, serta tidak ragu melakukan deteksi dini sebagai langkah penyelamatan.
Menurut Vega dalam program Jaga Malam Pro 2 Jember edisi 7 November 2025, kanker payudara merupakan penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal pada jaringan payudara yang berkembang secara tidak terkendali. Sel tersebut dapat berasal dari saluran susu (duktus) maupun kelenjar penghasil susu (lobulus). Jika terus membelah tanpa kendali, sel akan membentuk tumor yang berpotensi berkembang menjadi kanker ganas dan menyebar ke organ lain, seperti paru-paru, hati, maupun tulang.
"Bila ditemukan pada tahap awal dan segera diobati, peluang kesembuhan kanker payudara bisa mencapai sekitar 90 persen," ujar Vega, Jumat (07/11/2025).
Vega menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada satu penyebab pasti kanker payudara. Namun, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya, antara lain usia di atas 40 tahun, riwayat keluarga dengan kanker payudara, mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, faktor hormonal seperti menstruasi dini atau menopause terlambat, belum pernah hamil atau melahirkan pada usia lebih dari 30 tahun, serta gaya hidup yang kurang sehat seperti merokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, dan pola makan tinggi lemak.
Secara medis, perkembangan kanker payudara berlangsung melalui proses yang cukup panjang. Awalnya terjadi mutasi genetik pada sel payudara sehingga sel kehilangan kemampuan mengatur siklus hidupnya. Sel yang seharusnya mati justru terus membelah hingga membentuk tumor. Apabila tidak ditangani, sel kanker dapat menyebar melalui pembuluh darah maupun sistem limfatik ke berbagai organ tubuh atau dikenal sebagai metastasis.
| Baca juga: Mengenal Avoidant Attachment Style |
Karena proses tersebut sering berlangsung tanpa gejala, Vega menekankan pentingnya deteksi dini. Salah satu cara paling sederhana adalah melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) setiap bulan. Pemeriksaan ini bertujuan mengenali perubahan pada payudara sedini mungkin sehingga apabila ditemukan kelainan dapat segera dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Ia menjelaskan bahwa waktu terbaik melakukan SADARI adalah sekitar tujuh hingga sepuluh hari setelah hari pertama menstruasi. Sementara bagi perempuan yang telah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan agar lebih mudah diingat.
Langkah SADARI dilakukan dengan mengamati bentuk dan kondisi payudara di depan cermin, kemudian meraba seluruh area payudara menggunakan tiga jari secara sistematis untuk mendeteksi adanya benjolan, perubahan bentuk, tarikan pada puting, maupun keluarnya cairan yang tidak normal. Apabila ditemukan kelainan, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
| Baca juga: Pola Hidup Sehat Kunci Umur Panjang |
Selain SADARI, Vega juga menjelaskan pentingnya SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan setidaknya satu kali setiap tahun. Pemeriksaan lanjutan lainnya meliputi USG payudara yang umumnya direkomendasikan bagi perempuan berusia di bawah 40 tahun serta mamografi bagi perempuan berusia di atas 40 tahun setiap satu hingga dua tahun sekali.
Ia juga mengingatkan bahwa kanker payudara tidak hanya menyerang perempuan. Meskipun kasusnya relatif jarang, laki-laki tetap memiliki jaringan payudara yang dapat mengalami perubahan sel abnormal. Karena rendahnya kesadaran, banyak kasus pada laki-laki baru terdiagnosis ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut.
Selain pemeriksaan rutin, Vega menekankan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan. Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, ikan yang kaya omega-3, rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari, menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok dan makanan tinggi lemak.
Dalam kesempatan tersebut, Vega juga memperkenalkan berbagai kegiatan edukasi yang dilakukan SCORA CIMSA Universitas Jember untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara. Salah satunya melalui kampanye Breast Cancer Awareness Month (B-CAM) yang diperingati setiap Oktober serta kegiatan Pink Walk bersama komunitas Lovepink yang beranggotakan para pejuang dan penyintas kanker payudara. Melalui kerja sama dengan rumah sakit, kegiatan tersebut juga menghadirkan layanan mamografi gratis bagi perempuan berusia di atas 40 tahun sebagai bentuk dukungan terhadap deteksi dini kanker payudara.
Vega menambahkan bahwa pengobatan kanker payudara disesuaikan dengan stadium penyakit dan kondisi pasien. Penanganan dapat berupa operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, hingga targeted therapy yang kini semakin berkembang melalui pendekatan personalized therapy, yaitu terapi yang disesuaikan dengan profil genetik pasien agar lebih efektif dan meminimalkan efek samping. Vega juga menghimbau masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri dan mulai lebih peduli terhadap kesehatan payudara.
"Kenali tubuhmu, jangan abaikan perubahan sekecil apa pun, dan jangan takut memeriksakan diri. Deteksi dini bukan hanya tentang menemukan penyakit lebih cepat, tetapi juga memberi kesempatan yang lebih besar untuk sembuh dan menjalani hidup yang lebih sehat," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....