Suka Makan Jeroan? Dokter Ingatkan Ancaman Hipertens

  • 31 Mei 2026 11:30 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID JEMBER. Anggapan hipertensi hanya menyerang orangtua masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal kini, kasus tekanan darah tinggi semakin banyak ditemukan pada usia muda. Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Nusa Purnawan Putra, Sp.PD mengatakan perubahan pola hidup membuat hipertensi muncul lebih dini. “Saat ini insidensi dari hipertensi itu semakin muda,” ujar dr Nusa pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan pada akun Instagram Kementerian Kesehatan, Jumat (29/5/2026).

Kombinasi Jeroan, Rokok, dan Kurang Gerak Jadi Bom Waktu

Menurut dr Nusa, makan jeroan saja bukan satu-satunya penyebab. Masalah muncul ketika kebiasaan tersebut bertemu faktor risiko lain. “Terutama pada pasien atau populasi yang memang dia tidak ada riwayat, tapi dia ternyata rutin merokok. Ternyata dia jarang aktivitas atau olahraga. Ditambah penumpukan lemak atau berat badan tubuh yang berlebih. Itu lebih berisiko,” jelasnya. Kondisi ini banyak ditemui dalam keseharian masyarakat: sarapan bubur ayam dengan sate usus, merokok setelah makan, lalu minim aktivitas fisik.

Garam Tinggi Jadi Sahabat Dekat Tapi Jahat

Selain jeroan, konsumsi garam tinggi juga menjadi faktor yang sering terlupakan. “Kadang orang Indonesia selain itu adalah bumbu garamnya. Jadi dengan kandungan garam yang tinggi, itu sahabat yang dekat tetapi jahat untuk tubuh kita,” kata dr Nusa. Ia menyebut konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah karena tubuh menahan lebih banyak cairan.“Kita disarankan mengonsumsi kurang dari 2 gram garam per hari,” jelasnya.

Olahraga Penting, Tapi Bukan Alat Tawar

Sebagian orang menganggap makan jeroan bisa “dibayar” dengan olahraga. Menurut dr Nusa, pola pikir ini kurang tepat. “Jangan sampai jadi alat tawar. Makan jeroan banyak deh, kan habis ini bisa olahraga. Makan jeroan banyak deh, kan habis ini bisa minum obat kolesterol. Nah, itu tidak disarankan,” tegasnya. Ia menganjurkan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu. “Aktivitas fisik yang disarankan adalah yang kontinu dan ritmik. Minimal 150 menit seminggu atau 30 menit sehari dalam 5 hari,” katanya.

Bahaya Hipertensi Mengintai Kesehatan Mata Sampai Ginjal

Hipertensi yang tidak dikontrol bisa merusak banyak organ. “Kalau tekanan airnya terlalu tinggi, maka rumput, pohon tanaman kita akan rusak. Sama kayak tubuh kita. Kalau tekanan darahnya terlalu tinggi, itu bisa merusak pembuluh darah kecil,” ujar dr Nusa.

Dampaknya bisa berupa:

- Gangguan penglihatan mendadak

- Kerusakan ginjal

- Stroke

- Serangan jantung koroner

- Gangguan pembuluh darah otak

Sudah Minum Obat, Masih Boleh Makan Bebas?

Menurut dr Nusa, obat hipertensi bukan berarti bebas makan apa saja. “Tidak bisa kita memberikan paradigma pasien bahwa tenang aja ada obat saja, tetapi non-medikamentosanya tidak dilakukan dengan benar,” katanya. Ia menekankan pengobatan harus dibarengi perubahan gaya hidup. Mulai dari menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, membatasi garam, hingga mengatur konsumsi jeroan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....