Gaya Hidup Dinilai Berpengaruh pada Kesuburan Pria
- 29 Apr 2026 09:00 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Masalah infertilitas pada pria masih kerap dianggap tabu, padahal faktor pria disebut berkontribusi hingga 50 persen terhadap kesulitan pasangan memperoleh keturunan. Hal itu disampaikan spesialis urologi dari IDI Jember, dr. Septa Surya Wahyudi, Sp.U, dalam program “Indonesia Sehat” RRI Jember, Jumat 24 April 2026.
Menurut dr. Septa, infertilitas didefinisikan sebagai kondisi pasangan suami istri yang telah menjalani hubungan rutin tanpa kontrasepsi selama 12 bulan, namun belum memperoleh kehamilan.
Ia menjelaskan, gaya hidup menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas sperma, dengan kontribusi sekitar 30 hingga 40 persen.
| Baca juga: Rekomendasi Pola Makan Sehat Harian |
“Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, penggunaan pakaian terlalu ketat, hingga paparan suhu panas berlebih bisa memengaruhi kualitas sperma,” ujarnya.
Selain gaya hidup, dr. Septa juga meluruskan sejumlah kekhawatiran terkait penggunaan alat kontrasepsi. Menurutnya, kontrasepsi non-hormonal seperti kondom dan IUD tidak memengaruhi kesuburan jangka panjang.
Sementara untuk kontrasepsi hormonal, ia menyebut tubuh membutuhkan waktu adaptasi untuk mengembalikan keseimbangan hormon setelah penggunaannya dihentikan.
Dalam menilai kesuburan pria, pemeriksaan sperma dilakukan melalui analisis laboratorium, meliputi volume, jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma.
“Pemeriksaan sperma sebenarnya relatif sederhana dan biayanya lebih terjangkau dibanding pemeriksaan kesuburan pada perempuan,” katanya.
Untuk meningkatkan kualitas sperma, dr. Septa menyarankan pola hidup sehat, termasuk konsumsi makanan kaya antioksidan dan mineral seperti zink serta selenium.
Jika diperlukan, penanganan medis juga tersedia, mulai dari inseminasi, bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), hingga metode ICSI untuk kondisi tertentu.
Namun, ia mengakui terdapat kasus yang memiliki keterbatasan intervensi medis, seperti kondisi azospermia total, di mana alternatif lain seperti adopsi bisa dipertimbangkan.
Dr. Septa mengimbau pasangan muda yang belum memperoleh keturunan setelah satu tahun menikah untuk tidak ragu berkonsultasi ke dokter.
“Jangan saling menyalahkan. Pemeriksaan kesuburan harus dilihat sebagai tanggung jawab bersama antara suami dan istri,” ujarnya.
Ia berharap edukasi terkait kesehatan reproduksi pria semakin terbuka sehingga stigma di masyarakat perlahan dapat dihilangkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....