Ramadan, UMKM Kuliner Banyuwangi Makin Laris
- 25 Feb 2026 18:58 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Momen Ramadan 2026 menjadi berkah bagi pelaku usaha kuliner rumahan di Banyuwangi. Produksi menu berbuka puasa meningkat seiring tingginya permintaan, ditambah kebijakan Bupati Ipuk Fiestiandani yang memfasilitasi banyak pasar takjil di berbagai kecamatan.
Seperti yang terlihat di lingkungan Kampung Baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Di kawasan tersebut, sekitar 20 ibu rumah tangga menjadi pelaku kuliner rumahan. Selama Ramadan, mereka memproduksi aneka menu khas berbuka, seperti kue cenil, urap-urap, aneka sayuran, lauk-pauk, hingga makanan siap santap lainnya.
Produksi mereka dipasok untuk memenuhi kebutuhan pedagang di lapak pasar takjil dan warung-warung sekitar. Pola distribusi ini membuat produk mereka relatif pasti terserap pasar setiap hari.
Untuk menjamin keamanan pangan dan kepastian halal, Pemkab Banyuwangi memfasilitasi pengurusan legalitas usaha secara gratis. Mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, hingga sertifikasi halal.
“Legalitas usaha sangat penting bagi para pelaku UMKM. Selain memberikan kepastian hukum, juga meningkatkan kepercayaan konsumen serta memudahkan akses permodalan melalui perbankan,” ujar Ipuk usai menyerahkan legalitas kepada pelaku kuliner rumahan dalam kegiatan silaturahmi warga di Kecamatan Gambiran, Selasa 24 Februari 2026.
Ipuk menambahkan, selain membantu pengurusan dokumen, pemkab juga rutin memberikan sosialisasi dan pendampingan.
“Semoga dengan legalitas ini, produk para usaha kuliner rumahan ini kian laris,” kata Ipuk.
Salah satu pelaku usaha, Fitria Sundari, mengaku lega setelah usahanya memiliki legalitas resmi. Setiap hari ia memproduksi kue cenil dan cilok untuk dipasok ke penampung.
“Awalnya tidak tahu kalau harus memiliki legalitas usaha. Terima kasih Ibu Bupati sudah membantu saya mengurus NIB dan sertifikat halal. Sekarang usaha saya sudah resmi dan diakui halal,” ujar Fitria.
Lingkungan Kampung Baru memang dikenal sebagai sentra jajanan tradisional. Sebagian besar ibu rumah tangga di wilayah tersebut memproduksi makanan rumahan untuk dijual kembali oleh penampung.
“Kami hanya membuat masakan, nanti sudah ada penampungnya. Jadi kami tidak repot karena sudah pasti terjual,” ungkap Fitria.
Selama Ramadan, para pelaku usaha tersebut menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar. Jika sebelumnya fokus pada jajanan basah, kini beralih membuat aneka lauk pauk dan takjil khas Ramadan.
Hal serupa dilakukan Puji Astuti. Produsen donat dan kue lapis itu sementara beralih membuat lauk siap santap.
“Harus pintar melihat peluang. Saat puasa biasanya masyarakat antusias berburu takjil dan lauk. Makanya saya inisiatif menjual lauk pauk. Alhamdulillah laris,” kata Puji.
Keberadaan pasar takjil serta fasilitasi legalitas UMKM dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat selama Ramadan. Selain meningkatkan pendapatan keluarga, langkah ini juga memperkuat daya saing UMKM kuliner Banyuwangi.