Arosuka Pascabanjir Bandang, dari Darurat menuju Pemulihan
- 28 Sep 2026 00:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hujan deras memicu banjir bandang (galodo) di Arosuka Kabupaten Solok pada Senin malam 21 September 2026, mengubah wajah kawasan dalam waktu singkat.
- Air bercampur lumpur, batu, dan material longsoran menerjang kawasan perkantosan serta permukiman warga, menyebabkan kerusakan pada bangunan pemerintahan.
- Banjir bandang terjadi ketika warga masih beraktivitas malam, dengan jalan tertutup oleh material longsoran dan infrastruktur publik mengalami kerusakan.
Pembersihan material dan pemulihan akses menjadi langkah awal sebelum pemerintah memasuki tahap rehabilitasi. Rumah warga, fasilitas pemerintahan, lahan pertanian, serta infrastruktur membutuhkan penanganan berdasarkan tingkat kerusakannya.
BNPB mendorong percepatan penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana sebagai dasar pemulihan. Penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) dikoordinasikan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dengan melibatkan organisasi perangkat daerah terkait.
Data rumah rusak kemudian disiapkan untuk ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Solok. Pendataan tersebut akan dipadupadankan dengan data kependudukan agar kebutuhan pemulihan dapat ditentukan.
Pemerintah juga menyiapkan hunian sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Lokasi hunian diharapkan aman dari risiko bencana serupa, namun tetap mempertimbangkan kedekatan dengan lingkungan sebelumnya.
Pada sisi pemerintahan, kerusakan sejumlah gedung membutuhkan keputusan lebih jauh mengenai keberlanjutan bangunan. Pemeriksaan awal mencatat 11 gedung perkantoran terdampak akibat banjir bandang.
Tiga bangunan mengalami kerusakan berat, yakni kantor DPRD, Sekretariat DPRD, dan kantor Dinas PUPR. Ketiga bangunan tersebut tidak direkomendasikan untuk direhabilitasi atau direkonstruksi pada lokasi semula.

Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatra Barat Maria Doeni Isa menjelaskan ketiga bangunan menjadi pertimbangan relokasi. Karena, kondisi struktur bangunan sudah tidak layak dipertahankan.
“Kemungkinan yang rusak berat itu harus relokasi karena strukturnya itu sudah tidak bisa dan tidak layak bangunan tersebut direhab-rekon lagi. Pada prinsipnya tidak boleh membangun di lokasi yang sudah jadi aliran Sungai,” ucapnya.
Pemerintah Kabupaten Solok memperkirakan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai sekitar Rp819 miliar. Kebutuhan tersebut mencakup sabo dam, normalisasi sungai, rumah warga, lahan pertanian, kantor, serta sarana prasarana umum.
Di lapangan, Kementerian PU tetap melanjutkan pembersihan sejumlah fasilitas publik yang terdampak. Pekerjaan mencakup kantor DPRD, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Puskesmas Kayu Jao, serta beberapa tempat ibadah.
Pemulihan juga mencakup jaringan air bersih yang terganggu akibat material banjir dan kerusakan pipa. Pemerintah juga menyiapkan dukungan mobil tangki air sambil memperbaiki jaringan yang terdampak.
Semua pekerjaan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan Solok tidak berhenti ketika jalan kembali dapat dilalui masyarakat. Proses berikutnya adalah memastikan warga kembali memiliki hunian, penghidupan, pelayanan, dan lingkungan yang lebih aman.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan seluruh unsur pemerintah akan terus mendukung proses penanganan hingga tahap pemulihan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah berbagai pekerjaan darurat mulai dilakukan di sejumlah titik terdampak.
“InsyaAllah, dengan ikhtiar bersama seluruh unsur di lapangan. Penanganan dapat terus dipercepat,” ucap Dody.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah akan terus hadir dan memberikan dukungan yang dibutuhkan masyarakat. Semoga Allah SWT memberi kelancaran dalam setiap ikhtiar dan melindungi masyarakat serta seluruh tim yang bertugas.”
Bagi warga Arosuka, proses pemulihan berarti mengembalikan kembali ruang hidup yang berubah dalam satu malam. Jalan yang sempat tertutup, rumah yang rusak, lahan yang tertimbun, dan kantor yang lumpuh menjadi pekerjaan panjang setelah air surut.
Namun, pemulihan juga membawa kebutuhan untuk menata kembali kawasan berdasarkan risiko bencana. Dari pencarian korban hingga penyiapan sabo dam, setiap tahapan kini diarahkan agar kehidupan masyarakat dapat kembali berjalan lebih aman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....