Arosuka Pascabanjir Bandang, dari Darurat menuju Pemulihan
- 28 Sep 2026 00:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hujan deras memicu banjir bandang (galodo) di Arosuka Kabupaten Solok pada Senin malam 21 September 2026, mengubah wajah kawasan dalam waktu singkat.
- Air bercampur lumpur, batu, dan material longsoran menerjang kawasan perkantosan serta permukiman warga, menyebabkan kerusakan pada bangunan pemerintahan.
- Banjir bandang terjadi ketika warga masih beraktivitas malam, dengan jalan tertutup oleh material longsoran dan infrastruktur publik mengalami kerusakan.
Terbukanya kembali akses tidak langsung mengakhiri pekerjaan tim gabungan yang masih berada di kawasan terdampak. Pencarian korban hilang tetap menjadi perhatian utama selama masa tanggap darurat berlangsung.
Hingga Kamis 24 September 2026, satu warga masih dinyatakan hilang setelah seorang korban sebelumnya ditemukan meninggal. Tim gabungan terus menyisir kawasan bantaran sungai sambil membersihkan material lumpur dan bebatuan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto meminta seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian memaksimalkan sumber daya tersedia. Menurutnya, pencarian korban harus berjalan bersamaan dengan pendataan masyarakat terdampak.
“Yang paling utama sekarang adalah pencarian satu korban yang masih belum ditemukan,” ujar Suharyanto. Ia juga meminta seluruh data masyarakat terdampak segera diselesaikan selama penanganan darurat berlangsung.

Pada waktu yang sama, pemerintah mulai menghadapi kebutuhan warga yang meninggalkan rumah akibat bencana. Sebanyak 474 jiwa tercatat mengungsi berdasarkan data BNPB pada 24 September tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, BNPB meminta pemerintah segera menyiapkan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat tidak terlalu lama berada dalam tenda pengungsian.
“Segera tentukan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Warga dapat ditempatkan di rumah keluarga atau disiapkan hunian sementara apabila tidak memiliki tempat tinggal yang dapat digunakan,” ucap Suharyanto.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut pengungsi tersebar pada sejumlah lokasi. Sebanyak 39 jiwa berada di rumah dinas wakil bupati, 17 jiwa di rumah dinas bupati, dan tujuh jiwa berada di rumah ladang.
Sementara, sebanyak 410 jiwa lainnya memilih mengungsi secara mandiri di sejumlah lokasi. Data tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan penanganan masyarakat setelah galodo menerjang permukiman.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Solok Desmalia Ramadhanur mencatat jumlah tersebut berasal dari 104 kepala keluarga (KK). “Kalau untuk KK, ini ada 104 KK, kemudian jumlahnya 474 jiwa,” katanya saat dialog bersama RRI Pro3, Jumat 25 September 2026.
Menurut Desmalia, kebutuhan pengungsi tidak hanya berupa makanan selama berada di lokasi pengungsian. “Pakaian dalam, pakaian sehari-hari dan air bersih sangat diperlukan bagi rumah yang terdampak di lokasi yang kena bencana,” ucapnya.
Pemantauan kesehatan juga dilakukan untuk memastikan kondisi warga tetap terjaga selama mengungsi. Desmalia menyebut bantuan logistik terus dikumpulkan di posko untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Pencarian korban dan pemenuhan kebutuhan pengungsi kemudian berjalan bersamaan sampai hari berikutnya. Pemerintah masih menunggu hasil pencarian sebelum mengalihkan seluruh perhatian menuju pemulihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....