Allah Hadir dalam Keheningan dan Pergumulan Hidup
- 21 Feb 2026 19:35 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong – Di tengah dunia yang riuh oleh ambisi dan kegelisahan, ada satu ruang yang kerap dihindari manusia: keheningan. Padahal, justru di sanalah seseorang belajar menyadari bahwa Tuhan tidak selalu hadir dalam gemuruh peristiwa besar, melainkan melalui bisikan lembut yang menenangkan jiwa.
Saat langkah terhenti, kata-kata tak lagi terucap, dan hati memilih diam, keheningan bukanlah kekosongan. Ia menjadi ruang perjumpaan, tempat manusia menemukan kembali makna, harapan, dan keyakinan di tengah tekanan hidup.
Pesan reflektif itu disampaikan Pendeta Kristian Moses dalam obrolan Program Mutiara Pagi RRI Entikong, Sabtu 21 Februari 2026. Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang memulai hari dengan hati yang ringan dan penuh sukacita.
| Baca juga: KUA Bonti Ingatkan Bahaya Menunda Taubat |
Menurutnya, ada yang bangun pagi dengan beban pergumulan yang belum terselesaikan. Ada pula yang menghadapi persoalan berat hingga menitikkan air mata, bahkan masih menantikan jawaban atas doa-doa yang belum juga terjawab.
“Mungkin pagi ini kita bangun dengan hati yang berat karena pergumulan. Ada yang sedang menghadapi persoalan berat sampai menitikkan air mata, atau bahkan doa-doa yang belum terkabul,” kata Moses.
Pendeta Moses mengungkapkan, Tuhan tidak pernah menjanjikan kehidupan tanpa badai atau perjalanan yang selalu tenang. Justru di tengah situasi yang bergejolak itulah, Tuhan mengizinkan pergumulan hadir sebagai bagian dari proses pembentukan iman dan kedewasaan rohani.
“Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa badai. Namun di tengah badai itulah, Tuhan bekerja dan menghadirkan makna,” ujarnya.
Ia kemudian merujuk pada kisah Kitab Ayub dalam Perjanjian Lama. Ayub digambarkan sebagai pribadi yang saleh, jujur, setia, serta diberkati secara materi dan keluarga. Namun di balik kesalehan itu, Ayub tetap mengalami penderitaan hebat kehilangan harta, keluarga, bahkan dukungan orang-orang terdekatnya.
Kisah tersebut kata Moses menunjukkan bahwa ketaatan tidak menjamin seseorang terbebas dari badai kehidupan. Sebaliknya, ketaatan menolong setiap orang percaya menyadari bahwa Tuhan tetap hadir dan menyertai, sehingga tak seorang pun benar-benar berjalan sendirian di tengah pergumulan.
“Artinya, ketaatan tidak menjamin kita bebas dari badai, tetapi memastikan bahwa kita tidak sendirian. Tuhan bersama-sama dengan kita dan tidak membiarkan kita berjalan sendiri di tengah pergumulan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....