Waspada Kasus Suspek Chikungunya di Sanggau Meningkat
- 06 Mei 2026 18:04 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Chikungunya sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, dan dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang memiliki populasi nyamuk tinggi. Meskipun jarang menyebabkan kematian, penyakit ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena nyeri sendi yang bisa berlangsung lama.
Kepala Puskesmas Tanjung Sekayam, dr. Yohana Rima Rian Ayuri dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa menjelaskan bahwa di Kabupaten Sanggau telah ditemukan kasus suspek chikungunya yang perlu mendapat perhatian serius. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terutama di kawasan Sungai Sengkuang dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari gigitan nyamuk guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
"Untuk kasus cikungunya di wilayah kerja kami dan ini menjadi warning terutama untuk warga yang ada di kelurahan - kelurahan Sungai Sengkuang dan sekitarnya dari bulan April lalu terjadi suspek belum kasus terkonfirmasi ada tujuh kasus di bulan April dan di Mei kita ada peningkatan kasus suspek menjadi dua belas kasus," kata dr Yohana Rima Rian Ayuri, Rabu 6 Mei 2026.
Dijelaskannya, kasus suspek menunjukkan gejala yang mulai mengarah pada chikungunya, yang umumnya ditandai dengan demam tinggi di atas 38°C meskipun pada beberapa kasus bisa sekitar 37,5°C. Selain itu, dapat muncul ruam kulit menyerupai DBD berupa bintik-bintik, namun ciri khas chikungunya adalah adanya nyeri sendi yang cukup menonjol bahkan di DBD tidak terdapat nyeri sendi dan bahkan menetap hingga satu bulan.
"Suspek sudah mengarah ke gejala bisanya ini cirinya ditandai dengan demam tinggi lebih dari tiga puluh delapan celcius kalo demam bisa hanya tiga puluh tujuh koma lima celcius, Kemudian terdapat ruam pada kulit kurang lebih sama pada DBD bintik - bintik cuman ciri khas cikungunga adalah nyeri sendi," ungkapnya
Yohana menyampaikan bahwa tiga gejala yang disebutkan, yakni demam tinggi, munculnya ruam, dan nyeri sendi, telah ditemukan pada kasus suspek. Bahkan, beberapa warga sudah dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, namun, kendalanya adalah belum tersedianya RDT Rapid Diagnostic Test, yaitu metode pemeriksaan cepat melalui sampel darah untuk membantu mendeteksi infeksi.
"Sudah ada masyarakat yang dirawat di rumah sakit hanya saja kekurangannya kita belum ada RDT Rapid Diagnostic Test kekuranganya itu saja sehingga belum bisa kita bilang kasus terkonfirmasi," kata Yohana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....