DBD Sanggau Masih Tinggi, 40 Kasus Tercatat, Anak Sekolah Paling Banyak Terpapar

  • 04 Jun 2026 14:41 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, EntikongKasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sanggau masih menjadi perhatian serius meski hingga awal Juni 2026 belum tercatat adanya korban meninggal dunia. Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau mencatat sebanyak 40 kasus DBD tersebar di sejumlah kecamatan, dengan kelompok usia anak-anak dan remaja menjadi yang paling banyak terdampak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Marlina, mengatakan berdasarkan data per 2 Juni 2026, jumlah kasus DBD yang terlapor mencapai 40 kasus dengan angka kematian nol kasus. Kondisi tersebut menunjukkan penanganan medis berjalan cukup baik, namun kewaspadaan masyarakat tetap harus ditingkatkan.

“Per 2 Juni 2026 tercatat ada 40 kasus DBD di Kabupaten Sanggau dengan nol kasus kematian. Kasus paling banyak terjadi pada kelompok usia 5 hingga 14 tahun dan tersebar di sejumlah kecamatan,” kata Marlina dalam Dialog Sanggau Menyapa RRI Sanggau, Kamis 4 Juni 2026.

Ia menjelaskan, Kecamatan Kapuas menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 24 kasus. Selanjutnya disusul Kecamatan Tayan Hulu dan Kecamatan Parindu yang juga mencatat sejumlah kasus dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, tingginya kasus pada kelompok usia sekolah menjadi perhatian khusus karena anak-anak merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap infeksi virus dengue. Selain berisiko mengganggu kesehatan, penyakit tersebut juga dapat memengaruhi aktivitas belajar apabila tidak ditangani secara cepat.

Ia mengatakan pola peningkatan kasus DBD di Kabupaten Sanggau umumnya terjadi pada awal tahun saat curah hujan tinggi. Kondisi tersebut menciptakan banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran DBD.

Meski faktor cuaca berperan besar, Marlina menilai perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan masih menjadi faktor penentu keberhasilan pengendalian penyakit. Kurangnya kesadaran untuk membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dapat meningkatkan risiko penularan.

Karena itu, Dinas Kesehatan terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui metode 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, ditambah berbagai langkah pencegahan lainnya.

“PSN 3M Plus jauh lebih efektif karena dapat memutus siklus hidup nyamuk dari telur hingga jentik. Sementara fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sehingga bukan solusi utama untuk mencegah DBD,” ujarnya.

Ia menyampaikan fogging hanya dilakukan dalam kondisi tertentu, seperti saat ditemukan kasus positif dan berpotensi terjadi penularan di lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, upaya pencegahan yang paling efektif tetap berada di tangan masyarakat melalui kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan secara rutin.

Marlina juga mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari, terutama jika disertai gejala seperti bintik merah, nyeri sendi, atau tanda perdarahan. Deteksi dan penanganan dini dinilai sangat penting untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan keselamatan pasien.

Untuk itu kata Marlina, dengan masih ditemukannya puluhan kasus DBD di berbagai kecamatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lengah. Keterlibatan aktif warga dalam pemberantasan sarang nyamuk dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kasus dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) DBD di wilayah tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....