Kerap Dianggap Sepele, Dehidrasi Berisiko Memicu Gagal Ginjal
- 02 Feb 2026 20:50 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Yuliana Yuli Exlasia, Kepala Puskesmas Kapuas, menjelaskan bahwa penyakit saluran pernapasan paling berisiko terjadi saat cuaca panas. Selain itu, keterbatasan sumber air bersih juga mendorong penggunaan air tidak sehat yang dapat memicu diare.
“Efek langsung yang paling sering dirasakan saat udara panas adalah dehidrasi,” jelas Yuliana dalam Dialog Entikong Menyapa di RRI Entikong, Senin, 2 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, dampak lain yang kerap dirasakan yaitu kelelahan akibat panas, serangan panas, serta penyakit kulit seperti ruam. Kondisi tersebut merupakan efek langsung, sedangkan dehidrasi dan diare merupakan dampak lanjutan dari paparan udara panas.
“Keluhan yang sering muncul biasanya pusing, mudah lelah, dan rasa haus berlebihan. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menyebabkan pingsan,” ujarnya.
Bahkan, apabila berlangsung dalam waktu berkepanjangan dan tidak ditangani, dehidrasi dapat memicu kegagalan organ. Salah satunya adalah penyakit gagal ginjal akibat kekurangan cairan.
“Tanda dehidrasi ringan yang paling mudah dikenali adalah rasa haus. Apalagi saat cuaca panas, tubuh mudah kehilangan elektrolit melalui keringat,” kata Yuli.
Lanjutnya, kebiasaan masyarakat yang baru minum saat merasa haus perlu diubah. Tubuh manusia memiliki kebutuhan cairan harian yang harus dipenuhi.
“Dalam sehari, minimal dibutuhkan satu setengah hingga dua liter air. Caranya bisa dengan minum sekitar 300 ml atau segelas air setiap dua jam,” jelasnya.
Menurut Yuli konsumsi air tidak perlu menunggu rasa haus, terutama saat cuaca panas yang meningkatkan kebutuhan cairan tubuh. Sehingga perlu menambahkan jumlah minum per harinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....